Pemkot Bukittinggi upayakan suara Jam Gadang terdengar lebih jauh
Senin, 4 November 2024 15:14 WIB
Pjs Wali Kota Bukittinggi, Hani Syopiar Rustam memeriksa kondisi mesin pemutar penanda waktu Jam Gadang. Pemkot mengupayakan agar suara dentang Jam Gadang bisa terdengar lebih jauh jangkauannya di Bukittinggi (Antara/Al Fatah)
Bukittinggi (ANTARA) - Pemerintah Kota Bukittinggi Sumatera Barat mengupayakan agar suara dentang Jam Gadang bisa terdengar lebih jauh jangkauannya. Hal ini disampaikan Pjs Wako Hani Syopiar saat memeriksa kondisi terkini bangunan ikonik itu.
"Bunyi khas dari Jam Gadang, memang tidak pernah berubah dari dulunya. Kita coba pikirkan dan upayakan, bagaimana suaranya ini bisa terdengar lebih jauh jangkauannya, mungkin bisa ditambah dengan pengeras suara, tapi tetap tidak merubah bunyinya," kata Hani Syopiar, Senin.
Dentang Jam Gadang Bukittinggi selalu berbunyi dengan suara cukup keras sebagai penanda waktu setiap jamnya.
Hani Syopiar Rustam, berkesempatan untuk masuk dan naik ke puncak Jam Gadang sekaligus memeriksa asal bunyi dari sebuah lonceng serta mesin pemutar jarum Jam Gadang.
"Jam Gadang dengan Big Ben di London, Inggris, sama pembuatnya. Orang yang buat dan pabriknya sama. Jadi yang membuat Jam Gadang ini, namanya Benhard Vortmann dari Jerman. Dia hanya membuat dua di dunia, satu di London dan satunya di Bukittinggi ini," ujarnya.
Untuk itu Pjs Wako Bukittinggi meminta warisan sejarah ini harus dipelihara keaslian dan keasriannya. Pemeliharaannya harus dilakukan rutin, dengan tidak merubah bentuknya.
Jam Gadang juga menjadi objek wisata masyarakat dan turis yang berkunjung ke Bukittinggi dengan keberadaan taman luas di sekelilingnya.
Bermaterial kapur dengan tinggi sekitar 26 meter, Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
"Bunyi khas dari Jam Gadang, memang tidak pernah berubah dari dulunya. Kita coba pikirkan dan upayakan, bagaimana suaranya ini bisa terdengar lebih jauh jangkauannya, mungkin bisa ditambah dengan pengeras suara, tapi tetap tidak merubah bunyinya," kata Hani Syopiar, Senin.
Dentang Jam Gadang Bukittinggi selalu berbunyi dengan suara cukup keras sebagai penanda waktu setiap jamnya.
Hani Syopiar Rustam, berkesempatan untuk masuk dan naik ke puncak Jam Gadang sekaligus memeriksa asal bunyi dari sebuah lonceng serta mesin pemutar jarum Jam Gadang.
"Jam Gadang dengan Big Ben di London, Inggris, sama pembuatnya. Orang yang buat dan pabriknya sama. Jadi yang membuat Jam Gadang ini, namanya Benhard Vortmann dari Jerman. Dia hanya membuat dua di dunia, satu di London dan satunya di Bukittinggi ini," ujarnya.
Untuk itu Pjs Wako Bukittinggi meminta warisan sejarah ini harus dipelihara keaslian dan keasriannya. Pemeliharaannya harus dilakukan rutin, dengan tidak merubah bentuknya.
Jam Gadang juga menjadi objek wisata masyarakat dan turis yang berkunjung ke Bukittinggi dengan keberadaan taman luas di sekelilingnya.
Bermaterial kapur dengan tinggi sekitar 26 meter, Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Pewarta : Alfatah
Editor : Siri Antoni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bulog Bukittinggi serap Cadangan Beras Pemerintah di Pasaman dan Pasaman Barat
12 February 2026 19:21 WIB
Kementerian Kebudayaan RI dukung rangkaian kegiatan 100 Tahun Jam Gadang Bukittinggi
11 February 2026 15:16 WIB
Truk pengangkut BBM pascaterbannya Jalan Lembah Anai ke jalur Sitinjau Lauik
07 February 2026 22:21 WIB
BPJS Kesehatan Bukittinggi gelar pemberian informasi langsung ke masyarakat perkuat pemahaman Program JKN
05 February 2026 11:45 WIB