Pengamat: Koalisi Partai Islam Sudah Tidak Relevan
Jumat, 27 September 2013 20:16 WIB
Jakarta, (Antara) - Pengamat politik Ahmad Dzakirin mengatakan wacana koalisi dari partai-partai Islam sudah tidak relevan untuk Pemilu 2014 karena muatan kepentingan ideologi kini dapat saja tergeser dengan kepentingan nasional.
"Kini bukan soal ideologi, atau koalisi, namun 'common interest' dari partai-partai yang akan menyatukan mereka untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan utama rakyat dari parpol," kata Dzakirin pada sebuah diskusi di Jakarta, Jumat.
Dzakirin berpendapat, kini telah terjadi tranformasi dari kekuatan Islamis ke arah pos islamis yang dalam perjalanannya akan membawa partai Islam "bergerak" ke tengah.
Membandingkan dengan iklim politik berbasis Islam di Turki, Dzakirin mengatakan Indonesia juga akan melihat bagaiamana basis Islam itu akan lebih kuat jika dipahami dan dimaknai dalam diri individu politisi bukan hanya label partai.
"Orang-orang akan melihat partai itu tidak beragama, yang beragama itu orangnya. Modalitas yang tampak adalah integritas moral," ujarnya, yang telah merampungkan buku tentang Strategi AK Parti di Turki dalam memenangkan Pemilu.
"Label partai Islamis sudah tidak mejadi acuan lagi," ujarnya menambahkan.
Salah satu hal lain yang membuat koalisi partai Islam tidak relevan kembali, kata Dzakirin adalah tidak adanya figur politik yang kuat untuk menyatukan kembali kekuatan partai Islam.
Figur-figur kuat seperti mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid, dia nilai, sudah tidak mampu menjadi ikon kuat untuk mengusung kekuatan koalisi.
Koalisi partai Islam untuk membentuk kekuatan poros tengah jilid II mencuat , ketika forum-forum yang melibatkan sejumlah politisi dari partai Islam mulai kembali diaktifkan, namun dalam beberapa kesempatan melibatkan pula politisi dari partai nasionalis.
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali, sebelumnya, pernah mengungkapkan tentang kemungkinan terjadinya koalisi Poros Tengah dari koalisi partai Islam pada Pemilu 2014, seperti yang pernah terjadi saat Pemilu 1999.
"Semua kemungkinan bisa terjadi dalam Pemilu. Syukur-syukur ada poros tengah. Akan tetapi, sekarang kami belum tahu soal arah koalisi pilpres. Keputusan mengenai itu akan mengerucut setelah Pemilu Legislatif 2014," ujarnya.
Dia mengatakan akan sangat membuka diri jika umat Islam berkeinginan kembali bersatu dan mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang ada.
"Saya berharap kita semua menjaga kebersamaan dan menyingkirkan segala hal sia-sia yang dapat mengganggu seperti konflik," kata dia.(*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bawaslu Sumbar bersama koalisi masyarakat deklarasi tolak politik uang
13 September 2024 19:22 WIB, 2024
Annisa Suci-Leli Arni maknai koalisi besar partai sebagai modal kuat membangun Dharmasraya
05 September 2024 22:18 WIB, 2024
Jubir: Wacana koalisi Anies-Ganjar respons dari elektabilitas Prabowo
16 January 2024 19:55 WIB, 2024
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Legislator: Percepat Pembangunan Gedung Rehabilitasi Pecandu Narkoba
08 January 2018 18:30 WIB, 2018
Kapolres Padang Pastikan Pilkada Jadi Prioritas Pengamanan Tahun Ini
06 January 2018 14:03 WIB, 2018
Demi Rp100 Juta, Tiga Kurir Ini Nekat Bawa 1,3 Ton Ganja dari Aceh ke Jakarta
04 January 2018 19:49 WIB, 2018
Kejari Pesisir Selatan Nyatakan Tidak Pernah Terima Tembusan Diversi Lakalantas
04 January 2018 17:53 WIB, 2018