​​​​​​​Bukittinggi (ANTARA) - Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Beny Yusrial menyampaikan seiring peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Kota Bukittinggi ke-237 menjadi momentum tepat untuk melihat dan mengoreksi kota ini untuk perbaikan dan peningkatan di masa depan.

Ia menyampaikannya saat Rapat Paripurna HJK Kota Bukittinggi yang diselenggarakan di Balai Sidang Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu.

"Sekarang Kota Bukittinggi kembali memperingati hari jadi yang ke-237, momen peringatan hari jadi kota perlu dimaknai dengan melakukan koreksi, instropeksi dan evaluasi untuk memperbaiki diri bersama kota ini," kata Beny Yusrial di Bukittinggi, Rabu.

Ia menyebut, formula masa depan kota ini dapat didesain melalui evaluasi dan mengambil pelajaran dari masa lalu.

"Melalui koreksi kita perbaiki tata kehidupan, melalui instropeksi kita ambil hikmah dari setiap kejadian, melalui evaluasi dari ikhtiar dan usaha yang telah kita lakukan, lalu kita bingkai catatan perjalanan hari ini dan ke depan dengan kerangka kerja yang produktif, kita design sebuah formula masa depan berlandaskan realita dan dinamika kekinian," ujar Beny.

Beny Yusrial yang menjabat Ketua DPRD Kota Bukittinggi setelah menggantikan Herman Sofyan pada September lalu mengatakan Kota Bukittinggi merupakan kota bersejarah yang sejak dulu menjadi pusat pemerintahan penjajah baik Belanda dan Jepang di Sumatera.

"Pilihan para Niniak Mamak untuk membentuk suatu komunitas pada sebuah dataran tinggi di sebuah tanah di Luhak Agam dan kemudian mendirikan Nagari Kurai, adalah awal dari keberadaan sebuah kota yang kini dikenal dengan nama “Bukittinggi”, pilihan tersebut merupakan suatu yang tepat hingga tidak heran bila negara penjajah Belanda dan Jepang  menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat utama dalam pengelolaan pemerintahan dan militernya," jelasnya.


Ia mengatakan, pada masa perjuangan kemerdekaan RI, kota ini pernah dijadikan Ibukota Kedua Republik Indonesia setelah Yogyakarta. 

"Ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Ibukota Provinsi Sumatera, kemudian Ibukota Sumatera Tengah, pernah pula menyandang status sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat sebelum dipindahkan ke Padang dan terakhir sebagai ibukota Kabupaten Agam sebelum dipindahkan ke Lubuk Basung," ujarnya.

Peringatan HJK Bukittinggi diselenggarakan dengan sederhana dan menerapkan protokol kesehatan ketat untuk mengantisipasi penyebaran wabah.

Kota Bukittinggi saat ini bersiap untuk didatangi wisatawan dari berbagai daerah menjelang Nataru tahun ini, sejumlah objek wisata dan pusat keramaian diperkirakan akan ramai dikunjungi.