Ini penjelasan BMKG soal fenomena langit berpendar di Menoreh
Selasa, 5 Oktober 2021 12:12 WIB
Logo BMKG (ANTARA/HO)
Jakarta, (ANTARA) - Fenomena langit berpendar di wilayah Menoreh, Jawa tengah tidak terkait dengan adanya bibit Siklon Tropis 92W yang tumbuh di perairan Filipina, kata Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), A. Fachri Radjab.
"Mengenai dampak terhadap fenomena langit berpendar di Menoreh, secara teori sulit untuk dikatakan ada kaitannya dengan bibit siklon tropis 92W," ujar Fachri saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Fachri mengatakan bibit siklon tropis posisinya jauh di sekitar Filipina. "Sedangkan fenomena langit berpendar lebih berskala lokal, jadi tidak bisa dikaitkan dengan bibit siklon tropis," ujar dia.
Sedangkan bibit Siklon Tropis 92W berdampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara.
Sebelumnya, Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan penyebab fenomena pendar warna kehijauan di langit Menoreh muncul karena adanya gelombang gravitasi atmosfer.
Erma menjelaskan gelombang gravitasi atmosfer adalah gelombang gravitasi yang terdapat di atmosfer dengan skala planet yang dapat terbentuk karena suatu gangguan di atmosfer pada lokasi tertentu, sehingga mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, mulai dari permukaan hingga lapisan yang paling tinggi di atmosfer seperti mesosfer.
Menurut dia, gangguan di atmosfer permukaan atau lapisan troposfer yang dapat membangkitkan gelombang gravitasi atmosfer adalah aktivitas konvektif yang menghasilkan awan konveksi yang tinggi.
Erma mengemukakan kemungkinan kaitan kemunculan pendar berwarna hijau di langit Menoreh dengan aktivitas badai skala meso yang mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, sehingga membentuk gelombang gravitasi atmosfer (GGA).
Hasil pengamatan terhadap data dari Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA) BRIN menunjukkan bahwa badai skala meso yang kuat dan meluas terbentuk di atas lautan sekitar 200 kilometer dari lokasi, yakni di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan.
Badai skala meso tersebut sepanjang hari bergerak seperti pendulum, terbentuk di Sumatera pada pagi hari lalu menuju timur ke arah Kalimantan dan melintasi laut Tiongkok Selatan hingga sore hari. Pada malam hari, badai itu bergerak kembali dari Kalimantan menuju ke laut dan menetap di sana hingga tengah malam. (*)
"Mengenai dampak terhadap fenomena langit berpendar di Menoreh, secara teori sulit untuk dikatakan ada kaitannya dengan bibit siklon tropis 92W," ujar Fachri saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Fachri mengatakan bibit siklon tropis posisinya jauh di sekitar Filipina. "Sedangkan fenomena langit berpendar lebih berskala lokal, jadi tidak bisa dikaitkan dengan bibit siklon tropis," ujar dia.
Sedangkan bibit Siklon Tropis 92W berdampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara.
Sebelumnya, Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan penyebab fenomena pendar warna kehijauan di langit Menoreh muncul karena adanya gelombang gravitasi atmosfer.
Erma menjelaskan gelombang gravitasi atmosfer adalah gelombang gravitasi yang terdapat di atmosfer dengan skala planet yang dapat terbentuk karena suatu gangguan di atmosfer pada lokasi tertentu, sehingga mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, mulai dari permukaan hingga lapisan yang paling tinggi di atmosfer seperti mesosfer.
Menurut dia, gangguan di atmosfer permukaan atau lapisan troposfer yang dapat membangkitkan gelombang gravitasi atmosfer adalah aktivitas konvektif yang menghasilkan awan konveksi yang tinggi.
Erma mengemukakan kemungkinan kaitan kemunculan pendar berwarna hijau di langit Menoreh dengan aktivitas badai skala meso yang mengganggu lapisan-lapisan di atmosfer, sehingga membentuk gelombang gravitasi atmosfer (GGA).
Hasil pengamatan terhadap data dari Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA) BRIN menunjukkan bahwa badai skala meso yang kuat dan meluas terbentuk di atas lautan sekitar 200 kilometer dari lokasi, yakni di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan.
Badai skala meso tersebut sepanjang hari bergerak seperti pendulum, terbentuk di Sumatera pada pagi hari lalu menuju timur ke arah Kalimantan dan melintasi laut Tiongkok Selatan hingga sore hari. Pada malam hari, badai itu bergerak kembali dari Kalimantan menuju ke laut dan menetap di sana hingga tengah malam. (*)
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Dharmasraya berpesan tak perlu kirim karangan bunga ulang tahun, diganti bibit tanaman
30 December 2025 16:45 WIB
Tingkatkan ekonomi masyarakat, Pemkab Dharmasraya serahkan bantuan bibit ikan
04 December 2025 16:11 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB
TNI-BNPB kebut pengerjaan huntara bagi warga terdampak tanah bergerak Sumbar
23 January 2026 22:26 WIB
Presiden Prabowo tegaskan bencana Sumatera tak nasional, tapi ditangani serius
01 January 2026 14:47 WIB
Dana untuk bangun kembali daerah terdampak bencana dialokasikan, ini penjelasan Purbaya
30 December 2025 16:34 WIB