Padang (ANTARA) - Banyak orang terlahir dari keluarga yang sederhana, tak mengendurkan semangat untuk mengubah nasibnya. Begitu juga halnya dengan pria bernama Ian Hanafiah. Berbagai cara sejak usia sekolah dicobanya agar bisa menggapai cita. Tidak mau menyerah, apalagi putus asa. 

Bila menilik sekilas masa kecilnya atau di usia sekolah, sudah mulai membatu ibunda menjajakan Agar-Agar. Tentulah untuk menambah uang jajan ke sekolah. Meski sang ayah penjual sate saat hari pakan/balai (hari pasar) tiba, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika beranjak usia sekolah menengah pertama atau SMP, pria yang terlahir dari pasangan Muhamad Noer dengan Noerma ini sesekali ikut terlibat membantu sang ayah dengan mendorong gerobak sate yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Pulang sekolah berjualan kerupuk kuah sate di depan rumah.

Seiring waktu berjalan dan sudah berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) di tanah kelahirannya Air Molek, Provinsi Riau. Kegigihan tetap melekat pada diri pria yang lahir pada 17 Juli 1964 ini. Dalam belajar tidak pintar-pintar amat, tapi bukan pula kemampuannya jauh tertinggal dari teman sejawatnya.

Setelah lulus dari SMA, mulai berpikir kemana kaki akan dilangkahkan. Tetap  di tanah kelahiran untuk melanjutkan pendidikan. Namun magnetnya kurang kuat untuk bertahan di kampung. Ingin jadi penerus melanjutkan usaha sang ayah, hati bimbang pula. Padahal, sate dengan bumbu hasil racikan tangan sang ayah cukup ternama di pasar Airmolek dengan nama “Sate Mak Punder” pengakuan masyarakat setempat dan bagi yang sudah pernah menikmatinya.
 
Pilihan dijatuhkan mencoba mengadu nasib ke ibukota provinsi tetangga yaitu Kota Padang. Sekitar 1983 pergilah ke Padang, waktu itu numpang dengan truk pengangkut botol kosong dari Air Molek ke Padang.

Armada angkutan Antar Kota Antar Provinsi masih terbatas, tidak sama seperti sekarang ramainya bus AKAP. Bersamaan pula ketika itu bekal uang untuk ongkos jauh dari memadai.

Tekad sudah bulat, yang ada dalam pikiran pokoknya sampai di Kota Padang. Setiba di Padang, tentulah melepas penat agak sehari-dua hari.

Lalu dilanjutkan mengikuti proses seleksi ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Universitas Andalas Padang. Sudah umumlah ketika seorang tamat SMA inginnya kuliah di kampus negeri. "Tapi saya tidak lolos alias gagal, barangkali dibawa standar,"ucapnya.

Maka ketika itu diketahui ada kampus akademi pariwisata, saat itu mendaftarlah. Melihat tentang mata kuliah yang akan diajarkan, dan prospek peluang kerjanya setelah tamat.

"Ini cocok dengan saya. Dipilihlah jurusan usaha pariwisata karena saya suka sejarah, suka geografi dan suka bertemu banyak orang,"ucap pria ramah itu.

Akhir masuk dan menjalankan kuliah dengan serius dan fokus. “Saya kalau sudah menjatuhkan pilihan itu, serius mengikuti dan akan fokus menjalankannya. Prinsip itu hingga sekarang tetap dipakai,”ujarnya.

Semasa kuliah itu, banyak juga suka dukanya. Bahkan pada satu waktu di malam hari, dirinya pernah tidur di atas meja lokal di Sekolah dekat Kostan. Tentulah tidak pakai selimut dan bantal. Untung saja masih darah muda.

 "Kami berdua dengan teman pria ketika itu. Apalah penyebabnya waktu itu, kami terpaksa harus tidur di Sekolah,"ungkapnya.

Sambil kuliah juga menjadi guide free-lance di salah satu hotel. Meski kemampuan bahasa inggris masih berlepotan dan pengetahuan masih terbatas. Tapi ditutupi dengan kelebihan lain. Kalau bawa rombongan ditutupi dengan bernyanyi, karena ada bakat. Jika bawa tamu makam malam juga bernyanyi sebelum makan.

Sering diajak tamu turut gabung makan dan selalu ditolak. "Ngak...ngak, saya sudah kenyang. Padahal sudah makan duluan.Dimata tamu saya seorang guide yang oke,"ucapnya.

Selain bernyanyi saat memandu tamu-tamu asing tersebut, juga dengan cerita-cerita canda. "Saya pelajari cerita-cerita canda dan cerita humor atau joke itu. Terhibur jugalah para turis tersebut. Salah satu strategi menutupi pengetahuan yang masih kurang,”ujarnya.

Menjadi guide free-lance itu berlangsung sekitar dua tahunan sejak 1985. Kala itu ditemani vespa tua, yang dijadikan transportasi ke tempat kerja. Waktu era 80-an tidak minder menggunakan vespa.

Singkat cerita, lalu menjelang tahun terakhir penyelesai perkulihan, sempat berkerja pada salah satu hotel di Padang. Bersyukur juga waktu itu, karena berkerja sambil penyelesaian kuliah. Ada dapat honor, bisa menerapkan ilmu yang didapat dibangku kuliah. 

Dengan berkerja di hotel tersebut, untung yang amat besar, yaitu bisa disambilkan membuat skripsi. Mesin tik bisa dipakai. "Saya malah dapat pujian dari pimpinan karena rajin mengetik hingga lewat waktu. Di bilang bos, anak baru ini rajin ya. Padahal menuntaskan skripsi dengan memanfaatkan mesin tik hotel," ceritanya sembari tersenyum.

Hal sulit tak terlupakan waktu kerja di hotel saat itu, ketika menerima tamu turis asing. Kalau wisatawan asing itu, seperti turis Belanda kopernya besar-besar. Itulah yang dibawa ke lantai atas dikamar turis tersebut. Dibukakan pintu dan masukkan koper ke dalam kamar sambil menyapa turis.

 "Selalu seperti itu trik saya lakukan. Mungkin turis-turis tak ingin berlama-lama, ya dikeluarkan tip Rp1.000. Baru saya tinggalkan kamarnya," tutur Ian sambil tertawa kecil seakan mengingat masa lalunya tersebut.

Setelah tamat kuliah itu, sekitar delapan tahun berkerja di salah satu perusahaan besar di Padang, diminta untuk operation tour, supervisor dan administrasinya. Semulanya saya tidak mau. Lebih enak jadi guide, income-nya bagus. Kalau kita berangkat dari airport bawa tamu, salam kiri-salam kanan,  saku kiri dan saku kanan berisi. Karena itu, saya menolak untuk bekerja di kantor.

Namun, pimpinan tour travel itu menawarkan dan berjanji diberi waktu dua kali untuk jalan ke luar dalam sebulan. Baru saya mau, terus berjalan meniti karir hingga sampai pada posisi tour manager ketika itu.

Seiring waktu perusahaan itu gagal manajemen hingga tutup. Akhir ia pindah ke satu perusahaan yang sebetulnya sudah jalan tetapi tidak ada tamu.

”Saya uji coba disitu dan buat target sendiri, apabila satu tahun perusahaan ini berjalan atau berkembang, maka saya akan keluar dan mendirikan perusahaan sendiri. Jika gagal, berarti bakad saya sebagai karyawan selamanya,” tuturnya.

Saat itu sudah banyak yang menawarkan dan mendorong juga untuk membuka perusahaan sendiri, tapi kendala belum punya uang dan tidak percaya diri serta dibayangi keragu-raguan.

Dalam kenyataan perusahaan yang saya geluti itu, kurun waktu satu tahun bisa melejit perkembangannya karena bisa mendatangkan kapal pesiar dan lainnya. Artinya sesuai dengan target, maka dalam pikiran, ini keren dan momen serta saatnya saya berhenti sesuai dengan janji diawal.

Nol Kilometer

Kini mulai merintis usaha tour sendiri. Dengan pilihan nama Ero Tour. Ero itu menunjukan masa yakni Era Reformasi, karena bertepatan dengan lahirnya pada krisis ekonomi melanda pada 1998. Didirikan sekitar tiga bulan (Februari 1998) sebelum lensernya kepemimpinan Bapak Soeharto pada Mei 1998.

Saat itu banyak orang menertawakan saya, ada yang bilang orang gila, negara sedang krisis monenter, sedang kabut asap. Namun, tanggapa waktu itu, niat saya kepada Allah SWT, ingin mengubah nasib. Itu saja yang menjadi spirit dalam diri.

Modal sangat prihatin, jangan kan komputer, mesin tik saja tidak punya. Memang mulai dari nol besar. Mesin faximal harganya waktu itu Rp1,5 juta, tidak punya uang untuk membelinya.

Jadi caranya hanya nebeng ke satu hotel yang berdekatan dengan kantor Ero Tour
Kalau menginfokan ke orang atau promosi, inilah nomor fax saya (milik hotel tadi, red).

Sedangkan untuk membuat surat penawaran diminta staf mengetiknya ke warung telkom (wartel) yang ada rental komputernya. Jika ada faximale masuk dari relasi, bayar seribu satu lembar ke pihak hotel.

Singkat cerita yang menghidupkan Ero Tour pertama kali ada masuk tamu dari Amsterdam. "Saya sudah punya networking dengan salah satu agen di amsterdam, ia kirim tamu ke saya dan saat deal saat itu, nilai kurs 1 usd = Rp2.300 dan saat agen tersebut membayar nilai kurs 1 usd = Rp17.000.
Turis sebanyak enam orang dan selama enam hari berada di Sumbar,” katanya.

Dari untung itulah dan tergolong besar diterima, sehingga menjadi modal awal untuk menapak jalan di tengah terpaan krismon. Dibelikan komputer dan faximale. Kantor masih sewa paviliun rumah orang dengan karyawan ada tiga orang. Karyawan dari tempat bekerja lama ada yang mohon-mohon ingin gabung.

“Mereka saya wanti-wanti, kita memulai mandiri dari awal dan kalau tidak jalan siap ya, mereka menjawab siap dan akhirnya berjalan",ujarnya

Motivasi bagi adik-adik yang ingin buka usaha,"Dalam berusaha itu, jangan sampai kecewakan orang dan saat ada kesempatan, ambil dan berupaya jadi yang terbaik. Niat baik kita kepada Allah,"saran Ian.

Soal logo, adanya simbolnya burung, Ian menyebutkan filosofinya agar burungnya terbang tinggi dan melalangbuana kemana-kemana, artinya punya mitra dimana-mana. Ero Tour prinsinya berkantor satu, tapi punya mitra dimana-mana.

Fokus dan Modal Trust

Sejak awal belum berani bermain di produk tiketing karena belum punya modal yang harus deposit ketika itu. Karenanya fokusnya hanya ke tour saja dan baru sekitar tiga-empat tahun kemudian baru melayani produk tiket maskapai.

Jadi, sejak awal yang sangat-sangat bersyukur kepada Allah SWT, usaha terus berjalan dan berkembang, dan hampir tidak ada kendala. Tamu banyak datang dan dengan kepercayaan dari mitra hotel, sehingga boleh bayar setelah cek out.

Memilih fokus ke tour karena melihat potensi pariwisata Sumatera Barat, sejalan pula dengan waktu kuliah yang lebih didalami dan intens kepengetahuan tersebut. Makanya setelah tamat kuliah tawarkan untuk magang di airline saya tidak mau.

Bahkan, ada satu waktu ditawarkan magang di japanes airline dirobet tawaran tersebut. Memilih untuk mencari sendiri tetapi tidak dapat waktu itu.

Justru fokus ke Tour, prinsipnya selain ada basic pengetahuan dan melirik Sumbar punya pontesi cukup besar yang belum digarap. Kenapa saya mesti repot-repot menjual daerah orang luar, sementara potensi Sumbar menjanjikan. 

“Saya dalami destinasi Sumbar dan upgrade program-program paket sesuai dengan pangsa pasar. Kalau untuk tamu Eropa ini modelnya, kalau wisatawan Asean seperti ini dan untuk domestik, family serta kalangan muda seperti ini. Artinya paket-paket tidak bisa disamakan karena selerah orang beda-beda, tidak bisa dipaksakan program kita, tapi mesti menyesuaikan dengan kebutuhan pasar,” kata dia.

Setelah program paket disiapkan dan lanjut menjalin networking atau membangun jaringan dengan perusahaan-perusahaan. Dirinya tidak banyak kepada B to C, tapi lebih kepada kegiatan yang B to B selalu ikut.

"Cara saya selalu perkuat relasi dengan networking dengan travel egen. Jadi kalau travel agen yang besar-besar di Jakarta, saya pegang meski jumlah tidak banyak,"ungkapnya.

Nah, agen-agen yang besar-besar itu sangat membantu saya, begitu sering mendapatkan orderan kunjungan wisatawan. Begitu ada agen baru yang kontek Ero, sering ditanya, kok kontak Ero Tour karena sebelumnya kita belum pernah kenal?. Jawaban, agen besar saja memakai bapak, kenapa saya tidak?.

Bahkan saat musim ramai (Peak) tamu sampai 1.000 orang per bulan dilayani, banyak juga teman-teman yang menunjuk untuk menjadi perwakilan umroh dan perwakilan jasa tour untuk keluar negeri.

Akan tetapi peluang itu tidak diambilnya karena tetap pada prinsip awal fokus pada incomeing atau membawa tamu datang ke Sumbar.

Andaikan waktu itu ia tergoda, tentu diambil peluang tersebut, tapi fokus akan terbagi. Kalau itu yang terjadi, tentu incomeing yang sedang manis-manisnya, artinya yang ramai-ramai ini akan diambil orang lain, tuturnya.

“Maka saya konsisten untuk menjaga incomeing dan kalau ada yang menawarkan untuk jasa tour atau buka perwakilan umroh, selalu di tolak dan di jawab, bahwa anda salah orang,”ucap suami Hj, Asmawati itu.

Bisnis travel agen itu adalah trust atau kepercayaan. Maka agen akan ragu-ragu mengirim tamunya ke suatu travel baru, jangan-jangan tidak mendapatkan pelayanan baik atau negatif. Karenanya mencari referensi apakah travel ini bagus?, jika ternyata agen A, agen B dan agen C memakai jasa kita, sehingga menjadi yakin.

Modal trust yang diberikan oleh para agen-agen besar itu yang selalu dipegang sejak dulu sampai sekarang. Bahkan, itulah salah satu hal penting dalam pengembangan bisnis biro perjalanan atau mengantarkan Ero Tour, alhamdulillah terus berkembang hingga kini.

Pria punya dua anak ini, memilih fokus menjual destinasi Sumatera Barat ke luar, seperti edventure Mentawai, naik gunung kerinci, gunung merapi. Budaya seperti Bajamba, alam-alam dan potensi laut saat awal belum berkembang, ada tetapi belum maksimal.

Fokus mendatangkan wisatawan ke Sumbar, sangat memberi multi dampak kepada ekonomi masyarakat. Berbeda dengan kalau membawa rombongan tour ke luar negeri, meski secara profit tetap sama. 

"Saya bawa orang ke luar negeri 20 orang, dapat untung Rp2 juta dan sebaliknya bawa orang ke Sumbar dapat untuk Rp2 juta. Tapi dengan incomeing, tamu akan punya nilai lebih, karena bayar hotel, bayar guide dan restorannya. Hal ini suatu kepuasan luar biasa, bagi saya," tutur Ketua Asita Sumbar itu.

Dengan kecintaan dalam mengembangkan pariwisata Sumatera Barat itu pula, saya dinilai oleh Forum Wartawan Pariwisata Sumbar, diganjar meraih Tourism Award tiga tahun berturut-turut mulai pada tahun 2007, 2008, dan tahun 2009. Sebelumnya pada 2006 meraih Life Time Achievement.

Penghargaan yang cukup bergengsi juga pernah diraih oleh Ero Tour pada 2016, sebagai Biro Perjalanan Wisata Halal Terbaik Nasional dari Kementerian Pariwisata RI, dan pada tahun yang sama juga dinobatkan sebagai World’s Best Halal Tour Operator Dunia yang diselenggarakan di Abu Dhabi.

Dua pengharagaan tersebut pada saat pemerintah Indonesia mengkampanyekan wisata halal, kami masuk seleksi pertama. Kaget juga datang orang kementerian dilihatnya produk, cek data dan hasil capaian tahun ini dan berapa data tamu yang dilayani tahun ini.

Lalu dengan cepat disajikan dan diberikan kepada tim, karena sudah ada sistem sehingga apa yang diminta cepat. Sistem atau aplikasi dibeli sejak 2005 di Jakarta.

Dengan meraih dua penghargaan tingkat nasional dan dunia itu, Ero Tour sangat bersyukur karena memberi dampak positif terhadap pencintraan sehingga banyak tamu yang datang dilayani melalui branding halal itu.

Kebiasaan Menabung

Siring dengan perkembang dari kantor yang butut di pavilion rumah orang tadi, sehingga pada tahun 2011, bisa membeli tanah dan membangun kantor Ero Tour sendiri yang sekarang ini. Hal itu bisa terjadi dan darimana uangnya, tidak terlepas dari kebiasaan menabung.

Setiap tahun disisikan dari hasil usaha, meski perusahaan milik sendiri sebagai mengelola atau CEO tetap digaji sebagaimana layaknya dan dilengkapi dengan fasilitas sederhana. Pengelolaan keuangan secara profesional dan istri sama anak-anak tidak bisa mengambil uang perusahaan.

Berkat dengan pengelolaan keuangan secara profesional, sebagai pemilik dan pengelola perusahaannya Ian masih bisa bertahan dan melewati galodo pandemi COVID-19 yang cukup berdampak terhadap dunia usaha dan sektor pariwisata.

“Merasakan dampak jelaslah, pada Maret-Juli 2020, tidak ada tamu dan baru berangsur ada pada awal Agustus. Kita bersyukur karena dalam bisnis tidak terlalu ambisius sehingga bisa dikelola financial secara optimal. Ada teman yang terlalu ngoyo atau ambisi, lalu pinjam ke bank yang melibihi kemampuan bayar sehingga ketika kondisi saat pandemi ini tentu agak terasa berat,” ujarnya.

Bapak dari Rico Pratama Andinata, SE dan Rossy Fitri Seanita, SE ini, sembari menjalankan usaha biro perjalanan, sangat begitu aktif dalam berorganisasi baik yang berkaitan dengan Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) dan oraganisasi lainnya.

Pernah menjabat sebagai sekretaris Asita Sumbar pada tahun 2007-2012 dan Ketua Asita Sumatera Barat dipercaya selama dua periode dari tahun 2012-2020.

Gagasan dan pemikirannya sudah banyak dicurahkannya untuk pembangunan sektor pariwisata Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya, masih bisa dikupas dan butuh waktu, sehingga diharapkan bisa digarap dalam bentuk lain, dan semoga bisa terwujud dalam bentuk buku yang konon sedang dipersiapkan bersama rekannya.***

 

 


Pewarta : Siri Antoni
Editor : Joko Nugroho
Copyright © ANTARA 2024