Keluarga Harmonis
Senin, 5 Oktober 2020 19:27 WIB
Mahyeldi dan istri.
Padang (ANTARA) - Malam itu pada pertengahan Ramadhan 1989 warga Koto Tangah Batu Hampar, Kabupaten Limapuluh Kota kedatangan seorang penceramah muda dari kota Padang.
Penampilannya yang energik dan penuh semangat, dengan kedalaman pengetahuan agamanya saat menyampaikan ceramah menjelang shalat tarawih membuat jamaah yang menyimak kaji kagum dan terpukau.
"Beruntung sekali ya kalau kita punya menantu seperti ustadz dari Padang ini," celetuk seorang jamaah ketika itu.
Sang dai muda itu tak lain adalah Mahyeldi yang memang sengaja datang ke Batu Hampar dalam rangka melamar sang pujaan hati Harneli Bahar.
Meski masih berstatus mahasiswa semester VI Universitas Andalas Mahyeldi mengambil pilihan untuk menikah di usia terbilang muda. Alasannya untuk menjaga diri, mengamalkan sunnah dan mengoptimalkan perannya dalam dakwah.
Harneli ketika itu merupakan mahasiswa semester II Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Padang yang kini berganti nama menjadi Universitas Negeri Padang.
Mesti masih berstatus mahasiswa tekad Mahyeldi sudah bulat untuk hidup berumah tangga. Ia meyakini rezeki berasal dari Allah yang diiringi dengan ikhtiar.
Selain kuliah saat itu ia sudah memiliki sejumlah usaha mulai dari berdagang koran, majalah dan buku, mengajar mengaji hingga mengajar di bimbel Adzkia.
Mahyeldi dan Harneli sebelumnya tidak pernah saling kenal kalau pun ada hanya sekadar mendengar nama dan perkenalan mereka difasilitasi oleh teman .
Setelah meyakinkan kedua orang tuanya, Mahyeldi membulatkan tekad untuk mengayuh bahtera rumah tangga dan ia memilih untuk langsung melamar Harneli.
Kendati Mahyeldi masih berstatus mahasiswa Neli yakin pria yang melamarnya adalah sosok yang bertanggungjawab. Ia pun meyakinkan kedua orang tuanya bahwa persoalan ekonomi tak perlu jadi penghambat dan ia siap menerima konsekuensi hidup berumah tangga dengan pria pilihannya.
Hanya butuh waktu 15 hari usai perkenalan pada 12 Mei 1989 kedua insan tersebut resmi disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Kembali ke Padang pasangan yang sudah sah ini kembali ke tempat kos masing-masing. Saat itu mereka belum mengontrak rumah dan Mahyeldi sering menemui Neli pada malam hari ke tempat kosnya.
Sebagai isteri yang baik, Neli tak pernah mengeluh dan menerima segala konsekuensi dari pernikahan muda.
Mahyeldi pun tidak pernah mengizinkan istrinya menggantungkan kehidupan kepada orang tuanya. Begitu juga dengan Mahyeldi, dia tidak mau meminta dana kepada orang tua.
Baginya, ketika sudah memantapkan hati dengan suatu pilihan, harus menjalankan apapun risikonya akan dihadapi sebagai bentuk tanggung jawab Mahyeldi terhadap keluarga.
Waktu bergulir, pasangan muda itu pun terus mengayuh bahtera hingga dikarunia sembilan putra putri.
Sebagai kepala keluarga Mahyeldi tak sungkan mencuci piring dan membantu mengerjakan beragam pekerjaan rumah tangga.
Ia selalu menyempatkan diri melakukan pekerjaan rumah tangga meski sang istri masih bisa melakukannya dan kebiasaan itu terus berlangsung sebagai cerminan sikap memuliakan istri dan memahami beratnya tugas seorang istri di rumah.
Di mata Neli, suaminya adalah sosok yang ulet dan pekerja keras dan mau mengerjakan apapun asalkan halal.
Baginya uda adalah pemimpin rumah tangga yang baik bisa menjadi imam, pemberi nasihat saat salah dan teman tempat mencurahkan isi hati dan banyak sisi positif lainnya.
Mahyeldi dan Neli berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anak. Bila ada persoalan atau kesalahpahaman diantara mereka berdua, selalu diselesaikan berdua tanpa boleh orang lain mengetahuinya. Termasuk terhadap anak-anak dan kedua orang tua masing-masing.
Di mata putra -putrinya Mahyeldi adalah figur buya sempurna memiliki kepribadian yang jujur, sederhana, perhatian, ulet, dan gigih. (adv)
Penulis adalah Juru Bicara Mahyeldi-Audy Joinaldy
Baca juga: Memilih Audy Joinaldy
Baca juga: Buya Mahyeldi menjawab kritik dengan kerja nyata
Penampilannya yang energik dan penuh semangat, dengan kedalaman pengetahuan agamanya saat menyampaikan ceramah menjelang shalat tarawih membuat jamaah yang menyimak kaji kagum dan terpukau.
"Beruntung sekali ya kalau kita punya menantu seperti ustadz dari Padang ini," celetuk seorang jamaah ketika itu.
Sang dai muda itu tak lain adalah Mahyeldi yang memang sengaja datang ke Batu Hampar dalam rangka melamar sang pujaan hati Harneli Bahar.
Meski masih berstatus mahasiswa semester VI Universitas Andalas Mahyeldi mengambil pilihan untuk menikah di usia terbilang muda. Alasannya untuk menjaga diri, mengamalkan sunnah dan mengoptimalkan perannya dalam dakwah.
Harneli ketika itu merupakan mahasiswa semester II Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Padang yang kini berganti nama menjadi Universitas Negeri Padang.
Mesti masih berstatus mahasiswa tekad Mahyeldi sudah bulat untuk hidup berumah tangga. Ia meyakini rezeki berasal dari Allah yang diiringi dengan ikhtiar.
Selain kuliah saat itu ia sudah memiliki sejumlah usaha mulai dari berdagang koran, majalah dan buku, mengajar mengaji hingga mengajar di bimbel Adzkia.
Mahyeldi dan Harneli sebelumnya tidak pernah saling kenal kalau pun ada hanya sekadar mendengar nama dan perkenalan mereka difasilitasi oleh teman .
Setelah meyakinkan kedua orang tuanya, Mahyeldi membulatkan tekad untuk mengayuh bahtera rumah tangga dan ia memilih untuk langsung melamar Harneli.
Kendati Mahyeldi masih berstatus mahasiswa Neli yakin pria yang melamarnya adalah sosok yang bertanggungjawab. Ia pun meyakinkan kedua orang tuanya bahwa persoalan ekonomi tak perlu jadi penghambat dan ia siap menerima konsekuensi hidup berumah tangga dengan pria pilihannya.
Hanya butuh waktu 15 hari usai perkenalan pada 12 Mei 1989 kedua insan tersebut resmi disatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Kembali ke Padang pasangan yang sudah sah ini kembali ke tempat kos masing-masing. Saat itu mereka belum mengontrak rumah dan Mahyeldi sering menemui Neli pada malam hari ke tempat kosnya.
Sebagai isteri yang baik, Neli tak pernah mengeluh dan menerima segala konsekuensi dari pernikahan muda.
Mahyeldi pun tidak pernah mengizinkan istrinya menggantungkan kehidupan kepada orang tuanya. Begitu juga dengan Mahyeldi, dia tidak mau meminta dana kepada orang tua.
Baginya, ketika sudah memantapkan hati dengan suatu pilihan, harus menjalankan apapun risikonya akan dihadapi sebagai bentuk tanggung jawab Mahyeldi terhadap keluarga.
Waktu bergulir, pasangan muda itu pun terus mengayuh bahtera hingga dikarunia sembilan putra putri.
Sebagai kepala keluarga Mahyeldi tak sungkan mencuci piring dan membantu mengerjakan beragam pekerjaan rumah tangga.
Ia selalu menyempatkan diri melakukan pekerjaan rumah tangga meski sang istri masih bisa melakukannya dan kebiasaan itu terus berlangsung sebagai cerminan sikap memuliakan istri dan memahami beratnya tugas seorang istri di rumah.
Di mata Neli, suaminya adalah sosok yang ulet dan pekerja keras dan mau mengerjakan apapun asalkan halal.
Baginya uda adalah pemimpin rumah tangga yang baik bisa menjadi imam, pemberi nasihat saat salah dan teman tempat mencurahkan isi hati dan banyak sisi positif lainnya.
Mahyeldi dan Neli berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anak. Bila ada persoalan atau kesalahpahaman diantara mereka berdua, selalu diselesaikan berdua tanpa boleh orang lain mengetahuinya. Termasuk terhadap anak-anak dan kedua orang tua masing-masing.
Di mata putra -putrinya Mahyeldi adalah figur buya sempurna memiliki kepribadian yang jujur, sederhana, perhatian, ulet, dan gigih. (adv)
Penulis adalah Juru Bicara Mahyeldi-Audy Joinaldy
Baca juga: Memilih Audy Joinaldy
Baca juga: Buya Mahyeldi menjawab kritik dengan kerja nyata
Pewarta : Mulyadi Muslim
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sidak Ramadan, Gubernur Mahyeldi pastikan disiplin ASN Pemprov Sumbar tetap terjaga
06 March 2026 8:31 WIB
Mahyeldi : Perkuat Ekonomi Daerah dengan Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat
04 March 2026 13:42 WIB
Gubernur Mahyeldi serahkan bantuan bedah rumah Rp25 Juta untuk keluarga Gatot di Sawahlunto
04 March 2026 9:04 WIB
Gubernur Mahyeldi iktikaf bersama warga dan serahkan bantuan untuk Masjid Baiturrahim Payakumbuh
26 February 2026 12:10 WIB
Pemprov Sumbar dan Pemkab Lima Puluh Kota sinkronkan arah pembangunan 2026
25 February 2026 7:15 WIB
Singgah Sahur di Situjuah Batua, Gubernur Mahyeldi salurkan bantuan bedah rumah untuk Ical
24 February 2026 13:09 WIB
Pengurus LPTQ Sumbar 2025--2029 Resmi Dilantik, Vasko Ruseimy Diamanahi Sebagai Ketua Umum
17 February 2026 19:39 WIB
65 Kepala Sekolah di Sumbar dilantik, Gubernur titip pembentukan karakter generasi masa depan
13 February 2026 17:47 WIB
Terpopuler - Fokus Pilkada
Lihat Juga
Pemkab Pasaman Barat tegaskan pelaksanaan pemilihan wali nagari secara e-voting
18 November 2025 19:02 WIB
Kenapa 27 Agustus 2025, jadi hari libur bagi ASN dan Non ASN Pangkalpinang dan Bangka?
27 August 2025 9:30 WIB
Meski kalah PSU, pasangan Nanik-Suyatni unggul tipis dari total suara Pilkada Magetan
23 March 2025 6:42 WIB