Bukittinggi, (ANTARA) - Sebelum matahari terbit, halimun menyelimuti Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Kabutnya menutupi rumah-rumah dan hanya menyisakan puncak Jam Gadang yang terlihat dari ketinggian.

Dentang Jam Gadang pukul enam pagi dan suara sapu lidi menyisir aspal menjadi tanda dimulainya kehidupan kota wisata itu. 

Nasya (10), seorang pengunjung dari Padang, sengaja keluar penginapan lebih pagi bersama orang tuanya agar dapat menikmati fajar dan berkunjung ke Pasa Ateh atau Pasar Atas.

"Kata orang, Pasa Ateh interiornya bagus karena dibangun dengan konsep "Green Building", jadi penasaran mau lihat langsung," katanya.

Menurutnya berkunjung lebih pagi ke Pasa Ateh, meminimalkan bertemu dengan orang banyak, karena masih dalam masa pandemi COVID-19.

Pusat grosir terbesar di Sumbar itu pernah terbakar pada 30 Oktober 2017 dan lebih dari 800 kios pedagang terdampak.

Bangunan pasar pun dinyatakan tidak layak lagi digunakan sehingga dirobohkan pada April 2018.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  merekonstruksi dengan meningkatkan fungsi pasar sebagai sarana perdagangan rakyat sehingga menjadi bangunan yang aman, nyaman, bersih, tertata, dan lebih estetis, tidak kumuh.

Pembangunan kembali Pasa Ateh dimulai pada 21 Agustus 2018 dan selesai pada 31 Desember 2019 dengan anggaran Rp292 miliar.

Selain dari bentuk fisik, yang membedakan Pasa Ateh dengan pasar sebelumnya atau dengan pasar lain, yakni konsep "Green Building" yang membuat pasar ini hemat energi.

Dari luar, Nasya melihat banyak pintu yang bisa menjadi tempat masuk ke pasar itu. Banyak juga beranda di setiap tingkatnya. 

Pasa Ateh terdiri dari 4 lantai, 1 basement, dan "rooftop" dengan luas total 39.720 meter persegi

Saat masuk ke dalam, hampir semua sisi pasar diterangi sinar matahari, sedangkan bagian koridor toko-toko diterangi lampu yang memiliki sensor cahaya.

"Di dalam ini pun sejuk rasanya, padahal katanya tidak pakai pendingin ruangan," kata Nasya sambil menyilangkan tangannya ke dada.

Sekretaris Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kota  Bukittinggi Asri mengatakan Pasa Ateh memang didesain memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga tidak memerlukan pendingin ruangan.

"Banyak pintu-pintu dan lubang-lubang yang dibuat untuk sirkulasi udara, tidak ada AC, kita hanya menggunakan Exhaust fan," kata Asri.

Asri menjelaskan agar cahaya banyak yang masuk, di tengah pasar dan sejumlah titik dibuat Sky Glass, atau kaca tempat masuk sinar matahari.

Selain itu, di koridor juga ditempatkan lampu yang menggunakan sensor gerak dan sensor cahaya.

"Jadi bila tidak ada orang atau sudah terlalu terang, lampu ini akan mati dengan sendirinya," katanya.


Instalasi Hemat Energi 

Menjelang siang, Nasya mencoba naik ke setiap lantai menggunakan eskalator. Tangga berjalan itu ternyata juga menggunakan konsep hemat energi, karena akan berhenti sendiri ketika dalam satu menit tidak ada orang yang menggunakan.

Selain itu, untuk akses tiap lantai juga bisa menggunakan lift untuk orang dan barang. Lift ini bisa digunakan mulai dari basement atau tempat parkir hingga ke lantai tiga.

Untuk toilet, menurut Nasya sangat bersih seperti toilet di mall. Ada juga toilet khusus difabel dan ruang untuk ibu menyusui.

Tiba-tiba terdengar bunyi "flush" dari dalam toilet, Nasya keluar dari sana sambil melap tangan dengan "handsanitizer". 

Ternyata pengolahan air di Pasa Ateh ini pun menggunakan konsep hemat energi. 

Kepala Seksi Sarana Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Pemkot Bukittinggi Alfiandi menjelaskan Pasa Ateh memiliki Sewage Treatment Plant (STP) yakni, instalasi pengolahan air limbah domestik.

"Air pembuangan seperti air cucian, diolah kembali di ruangan STP dan digunakan sebagai flusher toilet serta penyiram tanaman," kata Alfiandi.

Dia menambahkan Pasa Ateh juga memiliki bak penampungan untuk air cadangan, terutama untuk kebutuhan pemadam kebakaran.

Bak penampungan itu memanfaatkan air hujan yang berada di kiri dan kanan bagian Pasa Ateh.

"Jadi air hujan ditampung ke dalam Rain Water Tank, yang bisa dimanfaatkan saat terjadi kebakaran, mobil pemadam bisa langsung memanfaatkan air di bak ini," jelasnya.

Untuk penempatan instalasinya pun, berada di ruangan khusus yakni ruang pompa di basement Pasa Ateh.

Di ruangan itu, juga terdapat bio tank, yakni septictank modern ramah lingkungan dengan media pengolahan yang dirancang telah khusus untuk menguraikan limbah dengan maksimal.

Alfiandi menambahkan, di ruangan itu juga terdapat pompa otomatis yang akan menyedot air keluar saat terjadi banjir.

  Petugas mengecek kondisi panel tenaga surya di Pasa Ateh (Pasar Atas), Bukittinggi, Sumatera Barat, Senin (24/8/2020). Pemkot Bukittinggi melakukan pemeliharaan berkala instalasi hemat energi yang dimiliki Pasa Ateh agar tetap berfungsi dengan baik, di antaranya panel tenaga surya yang bisa menghemat listrik sampai 20 persen, serta pengolahan air limbah dan air hujan. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/20   Tenaga Matahari

Setelah makan siang di kios makanan lantai empat, Nasya dan orang tuanya kembali mencoba menelusuri tiap lantai di Pasa Ateh.

Lantai empat sebagian masih kosong, karena nantinya akan ditempati sejumlah pedagang kaki lima yang diberikan tempat khusus di situ.

Di ujung koridor, Nasya menemui ruangan kecil yang di dalamnya terdapat banyak meteran listrik.

Ternyata, ini adalah meteran listrik toko-toko yang ada di Pasa Ateh.

Kepala Seksi Sarana Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Pemkot Bukittinggi, Alfiandi mengatakan masing-masing toko memiliki meteran listrik prabayar sendiri di ruangan itu.

"Pemilik toko dapat mengisi token listriknya sendiri di ruangan ini, tidak bergabung dengan listrik gedung atau toko lainnya," katanya.

Sedangkan untuk listrik gedung Pasa Ateh, bisa menghemat 20 persen dari total penggunaan karena memanfaatkan tenaga matahari.

Di lantai paling atas atau "rooftop" Pasa Ateh, terdapat 78 panel tenaga surya yang tidak memiliki baterai.

Alfiandi menjelaskan, panel tenaga surya tanpa baterai ini dapat mengkonversi langsung radiasi sinar matahari menjadi energi listrik yang dapat langsung digunakan sehingga mengurangi pemakaian beban listrik PLN.

Menjelang sore, Nasya pun naik ke rooftop Pasa Ateh, tempat panel surya berada. Dipagari besi bewarna kuning dan hitam, panel surya ini berada tidak jauh dari SkyGlass atau kaca bulat besar di tengah Pasa Ateh.

Dari atas sana, pengunjung bisa menikmati panorama kota dan Jam Gadang serta Gunung Marapi dan Singgalang.

Kemudian Nasya bersama orangtuanya akan mengakhiri perjalanan menelusuri Pasa Ateh, seiring dengan terbenamnya matahari di bahu Gunung Singgalang. 

 

Pewarta : Iggoy El Fitra
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2024