Supreme Energy tuntaskan PLTP Rantau Dedap akhir 2020
Senin, 17 Februari 2020 16:19 WIB
Founder dan Chairman PT Supreme Energy Supramu Santosa (tengah) didampingi CEO PT Supreme Energy Nisriyanto (kanan) saat memberikan keterangan pers usai peresmian operasi komersil PLTP Muaralaboh, Senin (ANTARA/Erik Ifansya Akbar)
Padang Aro (ANTARA) - Founder dan Chairman PT Supreme Energy Supramu Santosa mengatakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Rantau Dedap Sumatera Selatan dengan kapasitas 90 megawatt yang membutuhkan investasi sekitar 700 juta dolar AS dijadwalkan selesai akhir 2020.
"Kami juga sedang menyiapkan program eksplorasi untuk wilayah kerja panas bumi Gunung Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung dengan kapasitas 220 MW," katanya saat peresmian operasi komersil PLTP Muaralaboh di Pekonina, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Senin.
Kegiatan eksplorasi PLTP Rajabasa, katanya akan dimulai setelah negoisasi perpanjangan Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN selesai.
Ia mengungkapkan proyek Rajabasa dalam beberapa tahun ini banyak permasalahannya sehingga dokumen PPA juga telah kedaluwarsa dan perlu dilakukan perpanjangan.
"Dokumen PPA panas bumi Rajabasa sudah lama sekali dan telah kadaluwarsa sehingga butuh diperpanjang setelah ini selesai segera dilakukan eksplorasi," ujarnya.
Sedangkan untuk pengembangan PLTP Muara Laboh tahap dua, PT Supreme Energy masih menunggu negosiasi PPA dengan PLN.
Saat ini, Supreme Energy juga dalam tahap pembicaraan dengan PLN dan Kementerian ESDM untuk pengembangan PLTP Muara Laboh Tahap dua dengan kapasitas 65 MW.
Pengembangan tahap dua diperkirakan membutuhkan investasi 400 juta dolar AS, akan segera dimulai eksplorasinya setelah negoisasi PPA selesai.
"COD Muara Laboh Tahap 1 dan rencana pengembangan tahap 2 merupakan bukti komitmen yang sangat kuat dari Supreme Energy dan mitra internasionalnya terhadap pengembangan energi panas bumi di Indonesia untuk mendukung pemerintah mencapai target bauran energi tahun 2025. Kami sangat menghargai dukungan yang kuat dan terus menerus dari pemerintah, PLN, dan masyarakat Solok Selatan khususnya selama kegiatan eksplorasi dan pengembangan," ujarnya.
PT Supreme Energy memulai studi pendahuluan dalam proyek pengembangan PLTP Muara Laboh pada tahun 2008, dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA), pada 2012 dan dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi.
"Kami juga sedang menyiapkan program eksplorasi untuk wilayah kerja panas bumi Gunung Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung dengan kapasitas 220 MW," katanya saat peresmian operasi komersil PLTP Muaralaboh di Pekonina, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, Senin.
Kegiatan eksplorasi PLTP Rajabasa, katanya akan dimulai setelah negoisasi perpanjangan Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN selesai.
Ia mengungkapkan proyek Rajabasa dalam beberapa tahun ini banyak permasalahannya sehingga dokumen PPA juga telah kedaluwarsa dan perlu dilakukan perpanjangan.
"Dokumen PPA panas bumi Rajabasa sudah lama sekali dan telah kadaluwarsa sehingga butuh diperpanjang setelah ini selesai segera dilakukan eksplorasi," ujarnya.
Sedangkan untuk pengembangan PLTP Muara Laboh tahap dua, PT Supreme Energy masih menunggu negosiasi PPA dengan PLN.
Saat ini, Supreme Energy juga dalam tahap pembicaraan dengan PLN dan Kementerian ESDM untuk pengembangan PLTP Muara Laboh Tahap dua dengan kapasitas 65 MW.
Pengembangan tahap dua diperkirakan membutuhkan investasi 400 juta dolar AS, akan segera dimulai eksplorasinya setelah negoisasi PPA selesai.
"COD Muara Laboh Tahap 1 dan rencana pengembangan tahap 2 merupakan bukti komitmen yang sangat kuat dari Supreme Energy dan mitra internasionalnya terhadap pengembangan energi panas bumi di Indonesia untuk mendukung pemerintah mencapai target bauran energi tahun 2025. Kami sangat menghargai dukungan yang kuat dan terus menerus dari pemerintah, PLN, dan masyarakat Solok Selatan khususnya selama kegiatan eksplorasi dan pengembangan," ujarnya.
PT Supreme Energy memulai studi pendahuluan dalam proyek pengembangan PLTP Muara Laboh pada tahun 2008, dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA), pada 2012 dan dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi.
Pewarta : Erik Ifansya Akbar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Lewat Kolaborasi Inklusif, PLN pacu inovasi hidrogen untuk lautan bebas emisi
22 April 2025 9:56 WIB
Makin Diminati Sektor Industri dan Bisnis, Pengguna REC Naik 117 Persen
27 January 2025 10:48 WIB, 2025
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (09/02/2026) hari ini, simak daftarnya
09 February 2026 9:06 WIB
Minggu (08/02/2026) hari ini, Harga emas UBS Rp2,972 juta per gr, Galeri24 Rp2,958 juta per gr
08 February 2026 9:00 WIB