OJK Papua evaluasi kinerja BPR sepanjang 2019
Minggu, 16 Februari 2020 16:40 WIB
Kepala OJK Papua dan Papua Barat Adolf FT Simanjuntak memberikan penghargaan kepada PT BPR Irian Sentosa (diwakili Verasisca Nainggolan/Direktur Bisnis) selaku BPR terbaik I Penerapan Tata Kelola Terbaik 2019. ANTARA/HO-OJK Papua
Jayapura (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan Papua dan Papua Barat mengevaluasi kinerja 13 Bank Perkreditan Rakyat di wilayah itu sepanjang 2019, salah satunya untuk mengetahui pertumbuhan kredit.
Kepala OJK Papua dan Papua Barat Adolf Fictor Tunggul Simanjuntak di Jayapura, Minggu, mengatakan selama 2019 tekanan ekonomi global dan kondisi politik di dalam negeri, yakni pemilihan umum, turut memengaruhi perekonomian nasional.
"Hingga Desember 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen atau tertinggi kedua di negara-negara G-20," katanya.
Ia menjelaskan dalam pencapaian tersebut, OJK bersama industri keuangan, termasuk BPR, mampu berkontribusi melalui pelaksanaan fungsi intermediasi (penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit) dengan tetap menjaga profil risikonya.
"Secara khusus untuk BPR di Tanah Papua, DPK (Dana Pihak Ketiga) posisi November 2019 tumbuh sebesar 31,90 persen jika dibandingkan dengan November 2018 untuk delapan BPR di Papua dan sebesar 15,55 persen untuk lima BPR di Papua Barat," ujarnya.
Selain itu, kata dia, pencapaian pertumbuhan DPK BPR di wilayah Papua dan Papua Barat masih di atas pertumbuhan nasional yang mencapai 12,63 persen.
"Pemanfaatan utama DPK digunakan untuk menyalurkan kredit yang tecermin dari pertumbuhan kredit sebesar 7,78 persen di Papua dan sebesar minus 0,43 persen di wilayah Papua Barat," kata dia.
Dia menambahkan pertumbuhan kredit di Papua cukup optimal meskipun masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan kredit nasional.
Hal itu, kata dia, karena adanya kebijakan pemerintah provinsi yang mengubah skema pembayaran gaji aparatur sipil negara sehingga membatasi penyaluran kredit kepada ASN di beberapa wilayah kabupaten dan kota di Papua.
Kepala OJK Papua dan Papua Barat Adolf Fictor Tunggul Simanjuntak di Jayapura, Minggu, mengatakan selama 2019 tekanan ekonomi global dan kondisi politik di dalam negeri, yakni pemilihan umum, turut memengaruhi perekonomian nasional.
"Hingga Desember 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen atau tertinggi kedua di negara-negara G-20," katanya.
Ia menjelaskan dalam pencapaian tersebut, OJK bersama industri keuangan, termasuk BPR, mampu berkontribusi melalui pelaksanaan fungsi intermediasi (penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit) dengan tetap menjaga profil risikonya.
"Secara khusus untuk BPR di Tanah Papua, DPK (Dana Pihak Ketiga) posisi November 2019 tumbuh sebesar 31,90 persen jika dibandingkan dengan November 2018 untuk delapan BPR di Papua dan sebesar 15,55 persen untuk lima BPR di Papua Barat," ujarnya.
Selain itu, kata dia, pencapaian pertumbuhan DPK BPR di wilayah Papua dan Papua Barat masih di atas pertumbuhan nasional yang mencapai 12,63 persen.
"Pemanfaatan utama DPK digunakan untuk menyalurkan kredit yang tecermin dari pertumbuhan kredit sebesar 7,78 persen di Papua dan sebesar minus 0,43 persen di wilayah Papua Barat," kata dia.
Dia menambahkan pertumbuhan kredit di Papua cukup optimal meskipun masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan kredit nasional.
Hal itu, kata dia, karena adanya kebijakan pemerintah provinsi yang mengubah skema pembayaran gaji aparatur sipil negara sehingga membatasi penyaluran kredit kepada ASN di beberapa wilayah kabupaten dan kota di Papua.
Pewarta : Hendrina Dian Kandipi
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Operasi Damai Cartenz 2026 tangkap 28 orang diduga jaringan kelompok bersenjata
23 February 2026 13:20 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Jumat (08/05/2026) pagi, emas Antam turun tipis Rp1.000 jadi Rp2,839 juta per gram
08 May 2026 9:43 WIB
Harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Jumat (08/05/2026) pagi ini fluktuatif
08 May 2026 7:40 WIB