Padang (ANTARA) - Sanggar Sarunai Sangkokalo yang berasal dari daerah Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat menampilkan kesenian daerah Minangkabau Lukah Gilo pada Festival Kebudayaan dan Alek Seni Minangkabau yang diadakan Fakultas Ilmu Budaya Univesritas Andalas baru-baru ini.

Pentas budaya ini merupakan salah satu kesenian yang ditampilkan pada malam puncak kegiatan Festival Kebudayaan dan Alek Seni Minangkabau.

Guru dari Sanggar Sarunai Sangkokalo Herdian Fauzi mengatakan bahwa Lukah Gilo merupakan salah satu kesenian daerah Minangkabau yang dijadikan sebagai media untuk dirasuki oleh makhluk halus/Jin .

‘’Kesenian lukah melibatkan satu orang Pawang yang akan membisikkan mantra dan dua orang lagi bertugas memegang badan lukah pada saat mantra dibisikkan hingga lukah mulai menggila dengan pergerakan yang tak tak tentu arah karena dirasuki oleh Jin dan juga dapat langsung dirasakan oleh para penonton,’’ ujar Herdian.

Herdian juga mengatakan dalam kesenian Lukah Gilo daerah Sijunjung, saat Lukah mulai menggila ada pantangan bahwa tidak boleh menyentuh pinggang dari Lukah Gilo.
‘’Sebelum Lukah Gilo ditampilkan, lukah biasa direndam dulu selama sehari,’’ sambung Herdian.
 
 


Sebelum memulai penampilan Lukah Gilo Sanggar Sarunai Sangkokalo membuka penampilan mereka dengan Silat Langkah Ampek

“Kalau di Sinjujung Lukah didandani layaknya seorang wanita, kepala lukah  berasal dari buah labu yang mata dan bibirnya dibuat menggunakan kapur sirih. Badanlukah diisi dengan sejumlah duri tanaman dan tangan berasal dari pelepah pisang” ujar Herdian

Pada awal sejarah lukah gilo ditujukan untuk hal mistis saat masyarakat Minangkabau masih sangat kental dengan kepercayaan akan ilmu-ilmu sihir yang melibatkan makhluk ghaib namun untuk saat ini hendri mengatakan bahwa lukah gilo dari sanggar sarunai sangkokalo hanyalah untuk melestarikan kesenian daerah Minangkabau.

Atraksi Lukah Gilo juga merupakan pembuktian kepada masyarakat luas bahwa sesuatu yang gaib memang benar adanya seperti yang tertera dalam surat Al-Baqarah

"Baru pertama kali melihat kesenian lukah gilo dan saya dibuat merinding ketika melihat penampilannya dan dapat mengenal tentang kesenian Lukah Gilo yang sudah sangat jarang ditemukan," ujar Ligia salah seorang penonton

Panitia kegiatan  Asneli mengatakan untuk pertama kali kesenian lukah gilo ditampilkan di acara FIB.

“Kami memilih Lukah sebagai salah satu kesenian yang ditampilkan untuk mengenalkan dan melestarikan kesenian Minangkabau yang sudah mulai hilang. Acara ini merupakan praktek dari mata kuliah manajemen seni,”ujar Asneli.

Beragam kesenian Lukah Gilo memiliki ciri khasnya masing-masing untuk setiap daerah dan saat ini kesenian Lukah Gilo sudah mulai langka ditemui di Sumatera Barat. Lukah merupakan alat untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu atau rotan yang berbentuk kerucut dan pada bagian ujungnya mengecil.

Penulis merupakan mahasiswa magang di portal www.sumbar.antaranews.com

Baca juga: Pemkot Padang harapkan tiga ranperda yang diajukan diterima DPRD
Baca juga: Kebakaran hanguskan satu rumah di Anduring
Baca juga: Air Manis beach is revitalized to pamper visitors

Pewarta : Nada Kurnia
Editor : Maswandi
Copyright © ANTARA 2024