Padang, (ANTARA) -  Petani manggis di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat tersenyum  merekah setelah secara resmi komoditas yang memiliki nama latin Garcinia mangostana itu  perdana diekspor ke negara Tirai Bambu. 
    Tak tangung-tanggung 10 ribu ton manggis asal Sumbar perdana diekspor ke Cina yang dilepas langsung oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
    Sumatera Barat pun menjadi sentra manggis terbesar nomor dua  setelah Jawa Barat dengan produksi  42.122 ton atau 26 persen dari produksi nasional.
    Sempat terhenti selama empat tahun, pada Januari 2018 peluang ekspor manggis ke Negeri Panda tersebut kembali dibuka usai  penandatanganan protokol manggis oleh badan karantina kedua negara pada 11 Desember 2017.
   Artinya jika selama ini komoditas pertanian andalan Sumbar yang merambah pasar internasional hanya karet dan hasil olahan kepala sawit berupa CPO kini peluang baru terbuka lebar.
   Tentu saja ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani karena pemasaran yang selama ini kerap menjadi kendala terbuka lebar bahkan menembus pasar luar negeri.
   Saat ini di Sumatera Barat terdapat  delapan kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai daerah kawasan manggis yaitu Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Sijunjung, Padang Pariaman, Agam dan Kota Padang.
   Agar  memiliki nilai tambah  Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Padang  mendorong mahasiswa berinovasi untuk menciptakan produk olahan buah manggis sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
    "Kalau dalam bentuk olahan tentu akan lebih mahal, kuncinya ada di mahasiswa mari ciptakan inovasi di kampus," kata dia. 
    Menurutnya mahasiswa jangan berpuas diri dan harus terus melakukan terobosan baru agar bisa menjadi orang sukses.
    "Coba buka di google apa manfaat manggis, kulitnya itu ada 75 manfaat bagi kesehatan, kalau diekstrak harganya bisa mencapai Rp90 ribu," kata dia.
    Amran menyebutkan kalau ekspor manggis Sumbar yang saat ini berjumlah 35 ribu ton diproses jadi obat dan lainnya maka nilainya bisa sampai Rp3.000 triliun.
    "Solusinya ada di kampus ini, lakukan inovasi dengan kreatif, kalau diekstrak manggis itu nilainya lebih tinggi dari APBN," ujarnya.
    Ia mengingatkan warga Sumatera Barat harus bersyukur karena memiliki potensi luar biasa yang tidak dimiliki negara lain.
    "Saya sudah kemana-mana, di luar negeri ada negara yang matahari hanya bersinar enam bulan, sementara di sini 12 bulan," katanya.
   Tidak hanya itu, lanjut dia, Sumbar juga memiliki keunggulan komparatif yaitu saat Juli, Agustus, September mengalami musim hujan, sementara di waktu yang sama di Pulau Jawa tengah mengalami kekeringan.
   "Oleh sebab itu tidak ada lagi alasan orang miskin di Sumatera Barat, dan harusnya para konglomerat di Tanah Air berasal dari Sumbar," katanya.
    Tak hanya manggis, petani di Kabupaten Solok pun kini sedang giatnya mengembangkan komoditas kopi Arabika bahkan kesulitan memenuhi permintaan pasar internasional yang terus meningkat.
     Salah satu pembudidaya kopi Arabika yang cukup dikenal di Solok adalah  Koperasi Solok Radjo.
    Beranjak dari keprihatinan atas  banyaknya petani kopi yang menjual hasil kebunnya dengan harga murah muncul ide untuk membentuk koperasi tersebut sebagai wadah yang bisa memakmurkan dan meninggikan harga kopi di tingkat petani.
    Tidak hanya memperkuat kelembagaan peningkatan standar pengolahan pascapanen juga membuat kopi Arabika Solok menembus pasar luar negeri seperti Amerika, Australia, Taiwan.
    Bahkan per tahun tak kurang dari 18 ton kopi dikirim ke Amerika Serikat dan empat ton ke Taiwan.
    Saat permintaan pasar meningkat Pengembangan kopi Arabika di Kabupaten Solok,  terkendala luas lahan sehingga saat ini belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar.
     "Saat ini total lahan yang ditanami kopi Arabika mencapai 6.900 hektare di tiga kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Solok mendapatkan pinjam pakai dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup seluas 2.700 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Admaizon.
    Menurutnya, tiga kecamatan yang bisa ditanami kopi Arabika Solok meliputi Danau Kembar, Lembah Gumanti dan Pantai Cermin dengan produktivitas mencapai 600 kilogram per hektare dalam bentuk biji kering.
    Selain itu kendala yang perlu diatasi adalah pengolahan pascapanen karena selama ini petani cenderung menjual dalam bentuk gelondongan sehingga harganya murah, ujar dia.
     Ia menyebutkan saat ini terdapat lebih kurang 2.706  petani kopi tergabung dalam  200 kelompok tani serta  tiga koperasi. 
    "Kalau untuk pasar tidak ada kendala, termasuk bibit saat ini sedang dikembangkan bibit jenis Sigagar Utang," ujarnya.
   Admaizon menambahkan jika petani sudah mampu melakukan pengolahan pascapanen dan mengemas kopi siap disajikan harga akan lebih mahal.
    "Saat ini harga biji kopi kering mencapai sekitar  Rp120 ribu per kilogram untuk jenis Arabika,"  katanya.
     Tantangan 
     Harus diakui untuk bisa menembus pasar ekspor salah satu hak yang mendapatkan perhatian utama adalah kualitas produk yang bisa bersaing.
     Tentu saja untuk dapat menghasilkan komoditas pertanian yang berkualitas dibarengi dengan peningkatan pemahaman petani tentang budi daya hingga pengolahan.
    Di sini ada dua faktor yang berperan yaitu riset tentang inovasi terbaru dari pemangku kepentingan terkait seperti Badan  serta penguatan peran penyuluh pertanian guna meningkatkan kapasitas petani.
    Jika selama ini sudah ada  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Sumatera Barat maka perannya perlu lebih dioptimalkan untuk mendiseminasikan hasil inovasi terbaru kepada petani.
   Penerapan sains berkelanjutan  
   Guna meningkatkan kualitas produk pertanian  Guru besar Universitas Andalas (Unand) Padang Prof Helmi menekankan pentingnya penerapan sains berkelanjutan dalam pembangunan pertanian.
    Saat ini pengembangan sains, teknologi dan inovasi cenderung bersifat monodisiplin dan fokus pada analisis yang sempit, sementara persoalan pembangunan pertanian sifatnya kompleks dan solusinya tidak bisa berasal dari satu bidang ilmu semata, kata dia  pada orasi ilmiah pengukuhan guru besar tetap dalam Ilmu Pembangunan Pertanian.
   Menurut dia masalah pembangunan sifatnya lintas sektor sehingga diperlukan kebijakan publik dan pendekatan manajemen pembangunan yang terintegrasi.
   Helmi mengindentifikasi sejumlah sasaran pembangunan berkelanjutan dalam  konteks pertanian, pangan, penghidupan dan pengelolaan sumber daya alam meliputi mengatasi kelaparan, membangun ketahan pangan, meningkatkan nutrisi, dan membangun pertanian berkelanjutan.
    Kemudian memastikan ketersediaan dan pengelolaan berkelanjutan air dan sanitasi untuk semua hingga membangun infrastruktur yang  tangguh, mengembangkan industrialisasi pertanian dan pangan yang  inklusif, berkelanjutan dan mendorong penerapan inovasi. 
    Oleh sebab itu ia memandang perlu mensinkronkan kebijakan dan tindakan yang mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan  dengan keluar dari silo keterbatasan ke arah sinergi dan kemitraan yang lebih kuat.
    Penerapan sains Keberlanjutan adalah bagian penting dari upaya memberikan basis yang kuat untuk merumuskan solusi inovatif terhadap masalah-masalah pembangunan berkelanjutan dan pencapaian SDGs, ujar dia. 
    Ia merekomendasikan dalam tataran tindakan diperlukan kebijakan publik untuk mendukung implementasi solusi inovatif dan transisi ke arah keberlanjutan. 
   Dari riset yang  dilakukan diidentifikasi kriteria dan kerangka kerja untuk memungkinkan penerapan sains keberlanjutan dan advokasi kebijakan publik pencapaian SDGs  bertumpu pada identifikasi masalah pembangunan berkelanjutan dan formulasi solusi inovatif dan implementasinya.
   Kemudian  proses partisipatif dan sinergis,  serta integrasi solusi inovatif ke dalam kebijakan publik untuk perluasan penerapannya. 
    "Dengan begitu diharapkan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik berdampak positif bagi kesejahteraan semua," ujarnya.







  


 

Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor : Miko Elfisha
Copyright © ANTARA 2024