Sumbar deflasi 0,37 persen pada Agustus, ini penyebabnya menurut BI
Rabu, 5 September 2018 17:11 WIB
Pemaparan tarif tiket pesawat rute Jakarta-Padang yang menjadi salah satu pemicu inflasi di Sumbar. (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)
Padang, (Antaranews Sumbar) - Bank Indonesia perwakilan Sumatera Barat mencatat provinsi itu mengalami deflasi 0,37 persen pada Agustus 2018 setelah pada Juli mengalami inflasi 0,56 persen.
"Deflasi Sumatera Barat pada Agustus 2018 terutama disumbang oleh angkutan udara dan beberapa komoditas bahan pangan strategis," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono di Padang, Rabu.
Menurutnya tarif angkutan udara pada Agustus tercatat mengalami deflasi dengan andil 0,26 persen seiring normalisasi harga setelah berakhirnya arus balik pulang basamo dan liburan sekolah.
"Secara spesifik, dorongan deflasi juga berasal dari turunnya harga komoditas cabai merah, bawang merah, dan jengkol dengan andil deflasi masing-masing 0,13 persen, 0,07 persen dan 0,05 persen," ujarnya.
Ia menilai turunnya harga cabai merah dan bawang merah karena melimpahnya pasokan setelah panen dan datangnya kiriman dari daerah lain.
Sedangkan turunnya harga jengkol disebabkan kecukupan pasokan setelah aktivitas petani/pengambil jengkol kembali normal pasca lebaran, kata dia.
Ia menyampaikan komoditas bahan pangan lainnya yang menyumbang deflasi antara lain kentang 0,029 persen, tomat sayur 0,027 persen, kangkung 0,025 persen, petai 0,017 persen, dan daging sapi 0,012 persen
Selain itu, emas perhiasan dari kelompok sandang juga menyumbang deflasi bulan ini dengan andil 0,017 persen, katanya.
Akan tetapi dorongan deflasi tertahan oleh inflasi beras, bensin, dan nasi dengan lauk serta kenaikan harga di tingkat petani dan produsen gabah, khususnya jenis Cisokan Solok.
Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia yang diikuti kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi pertamax dan pertalite di pada Juli 2018 masih m menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,04 persen pada Agustus, ujar dia.
Ia menambahkan menghadapi berbagai risiko yang ada, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai upaya dalam pengendalian inflasi di daerah.
Upaya tersebut difokuskan pada stabilitas harga komoditas penyumbang inflasi terutama beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam, dan daging ayam ras, serta program-program yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan pada aspek produksi, distribusi, tata niaga, dan kelembagaan, lanjut dia. (*)
"Deflasi Sumatera Barat pada Agustus 2018 terutama disumbang oleh angkutan udara dan beberapa komoditas bahan pangan strategis," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono di Padang, Rabu.
Menurutnya tarif angkutan udara pada Agustus tercatat mengalami deflasi dengan andil 0,26 persen seiring normalisasi harga setelah berakhirnya arus balik pulang basamo dan liburan sekolah.
"Secara spesifik, dorongan deflasi juga berasal dari turunnya harga komoditas cabai merah, bawang merah, dan jengkol dengan andil deflasi masing-masing 0,13 persen, 0,07 persen dan 0,05 persen," ujarnya.
Ia menilai turunnya harga cabai merah dan bawang merah karena melimpahnya pasokan setelah panen dan datangnya kiriman dari daerah lain.
Sedangkan turunnya harga jengkol disebabkan kecukupan pasokan setelah aktivitas petani/pengambil jengkol kembali normal pasca lebaran, kata dia.
Ia menyampaikan komoditas bahan pangan lainnya yang menyumbang deflasi antara lain kentang 0,029 persen, tomat sayur 0,027 persen, kangkung 0,025 persen, petai 0,017 persen, dan daging sapi 0,012 persen
Selain itu, emas perhiasan dari kelompok sandang juga menyumbang deflasi bulan ini dengan andil 0,017 persen, katanya.
Akan tetapi dorongan deflasi tertahan oleh inflasi beras, bensin, dan nasi dengan lauk serta kenaikan harga di tingkat petani dan produsen gabah, khususnya jenis Cisokan Solok.
Sementara itu, kenaikan harga minyak dunia yang diikuti kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi pertamax dan pertalite di pada Juli 2018 masih m menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,04 persen pada Agustus, ujar dia.
Ia menambahkan menghadapi berbagai risiko yang ada, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai upaya dalam pengendalian inflasi di daerah.
Upaya tersebut difokuskan pada stabilitas harga komoditas penyumbang inflasi terutama beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam, dan daging ayam ras, serta program-program yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan pada aspek produksi, distribusi, tata niaga, dan kelembagaan, lanjut dia. (*)
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Sabtu (04/04/2026) pagi ini harga emas Antam bertahan di angka Rp2,857 juta/gr
04 April 2026 9:06 WIB
Simak daftar harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Sabtu (04/04/026) pagi
04 April 2026 8:12 WIB
Jumat (03/04/2026) pagi harga emas Antam anjlok Rp65.000 jadi Rp2,857 juta/gram
03 April 2026 10:49 WIB
Harga emas UBS-Galeri24 turun, Antam naik di Pegadaian Jumat (03/04/2026) pagi
03 April 2026 7:54 WIB
Harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Kamis (02/04/2026) pagi kompak melonjak
02 April 2026 9:08 WIB
Harga emas Antam Kamis (02/04/2026) pagi naik Rp20.000 jadi Rp2,922 juta per gram
02 April 2026 9:06 WIB