Padang, (Antaranews Sumbar)- Pengamat politik Universitas Andalas (Unand) Padang, Edi Indrizal menilai keputusan Partai Demokrat untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra merupakan pilihan terakhir yang diambil oleh ketua umum partai tersebut  Susilo Bambang Yudhoyono.
    "Setelah upaya gagal akibat besarnya kendala dan tantangan yang dihadapi maka Demokrat harus berusaha berlabuh ke koalisi Prabowo sebagai  pilihan akhir," kata Edi di Padang, Selasa.
   Akan tetapi ia melihat  upaya untuk  mendapatkan pengaruh dan posisi yang kuat juga tidak gampang karena ada kekuatan non parpol alumni 212. 
   "Bagaimanapun juga tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali Demokrat harus bergabung dan ini bukan lagi soal kesesuaian," ujarnya. 
    Ia menilai keputusan ini diambil agar Demokrat tidak ketinggalan kereta dan  semakin sulit di 2024 sebagai  salah satu pertimbangan.
    Terkait  SBY mengajukan putra sulungnya Agus Harimurti Yudhoyono untuk cawapres ia melihat hal ini penting bagi Demokrat namun sulit bagi calon mitra partai politik untuk memenuhinya.
    "Misalnya  bagi Gerindra juga jadi tidak mudah untuk  bisa mendapatkan persetujuan mitra  terutama PKS, apalagi  selama ini hubungan  Gerindra dan PKS sudah  terjalin lebih panjang dan dalam," ujarnya.
    Ia berpendapat  capres cawapres  tetap saja belum final kecuali jika tidak memerlukan koalisi lagi  dengan  PKS dan PAN.
    "Jika dipaksakan juga maka  Prabowo dan Gerindra merugi," katanya.
    Ia juga menganalisis  jika latar kepentingan 2024 yang lebih besar  bagi Demokrat maka ikatan koalisi ini diperkirakan rapuh dan mudah lapuk.
    "Namun tampaknya  SBY dan Demokrat harus realistis dengan  menurunkan tuntutan tawaran dan  tidak memaksakan AHY sebagai  cawapres," katanya. (*)