Politisi PPP: Masyarakat Cenderung "Alergi" Pada Parpol
Jumat, 8 Februari 2013 13:37 WIB
Jakarta, (Antara) - Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin berpendapat ada kecenderungan masyarakat bersikap "alergi" atau tidak menyukai partai politik (parpol) akibat tindakan buruk yang dilakukan oleh beberapa elit politik.
"Era reformasi dan segala keterbukaannya dan proses demokratisasi, sepertinya menyebabkan partai berada pada citra yang buruk sehingga ada semacam 'phobia' pada parpol. Masyarakat itu seringkali 'alergi' terhadap partai mungkin karena masalah internal elit partai yang mengecewakan masyarakat," kata Lukman di Jakarta, Jumat.
Hal tersebut, menurut dia, membuat partai politik sulit untuk memilih dan menentukan kader-kader terbaiknya untuk dimajukan sebagai calon anggota legislatif (caleg).
"Jadi, sekarang ini kapasitas personal saja tidak cukup untuk membuat seseorang terpilih oleh masyarakat menjadi caleg, dan ada tantangan bagi setiap parpol untuk memajukan caleg yang terbaik bagi masyarakat," ujarnya.
Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa masyarakat perlu diberi pembinaan atau pengertian agar bila ada pengurus atau elit partai politik yang berperilaku 'menyimpang', masyarakat tidak melemparkan kesalahan itu kepada partai politik.
"Jangan sampai partai sebagai institusi yang dihujat karena anggotanya yang tidak benar. Dimanapun pasti selalu ada orang-orang yang baik dan yang buruk," katanya.
Dia menambahkan, bagaimanapun, masyarakat tidak dapat menafikkan eksistensi partai politik dalam kancah demokrasi.
Dia juga menyarankan agar masyarakat dapat dengan cermat memilih caleg yang tepat yang diajukan oleh parpol sebagai kandidat-kandidat yang akan 'duduk' di parlemen.
"Di negara manapun di dunia, parlemen itu adalah gambaran dari masyarakat secara keseluruhan. Apalagi di Indonesia yang sistem DPR nya melalui proses pemilihan langsung oleh suara terbanyak masyarakat," kata Lukman.
"Jadi, sekarang ini masyarakat 100 persen menentukan siapa saja yang bisa menjadi anggota DPR. Tentulah setiap parpol ingin mengirimkan calon yang terbaik, namun akhirnya rakyat juga yang menentukan," tambahnya.
Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi mengatakan, partai-partai politik harus mulai bersiap mencari orang-orang yang dianggap bisa memenuhi aspirasi pemilih, jika tidak ingin gagal pada Pemilu Legislatif 2014.
Menurut dia, saat ini partai politik harus mulai merekrut pejabat publik yang baik, dan untuk pemilihan legislatif, parpol harus mengidentifikasi apakah kadernya memenuhi kualifikasi dan kapasitas sebagai caleg.
"Kalau tidak memenuhi cobalah untuk merekrut caleg dari luar partai karena sejauh ini calon yang disodorkan partai sering tidak sesuai dengan hati nurani pemilih. Sinyal yang demikian harusnya ditangkap oleh partai untuk mencari caleg alternatif, jika tidak pilihannya cukup sulit," kata Burhanuddin.
"Bisa saja pemilih akan terpaksa golput karena pilihan caleg yang buruk, dan ini merupakan hal buruk untuk konsolidasi demokrasi," tambahnya. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Miliki Basis 17 Ribu Suara, PPP Kabupaten Solok Nyatakan Dukungan Penuh untuk Mahyeldi-Vasko
16 October 2024 20:29 WIB, 2024
DPC PPP Pasaman Barat adakan seleksi visi misi bakal calon kepala daerah
05 June 2024 20:32 WIB, 2024
Sandiaga Uno ingin para caleg PPP kerja "all out" jelang Pemilu 2024
11 November 2023 20:14 WIB, 2023
PPP: Yenny Wahid gabung TPN Ganjar beri semangat peningkatan elektoral
28 October 2023 12:50 WIB, 2023
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Legislator: Percepat Pembangunan Gedung Rehabilitasi Pecandu Narkoba
08 January 2018 18:30 WIB, 2018
Kapolres Padang Pastikan Pilkada Jadi Prioritas Pengamanan Tahun Ini
06 January 2018 14:03 WIB, 2018
Demi Rp100 Juta, Tiga Kurir Ini Nekat Bawa 1,3 Ton Ganja dari Aceh ke Jakarta
04 January 2018 19:49 WIB, 2018
Kejari Pesisir Selatan Nyatakan Tidak Pernah Terima Tembusan Diversi Lakalantas
04 January 2018 17:53 WIB, 2018