Padang, (Antara Sumbar) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah - Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kota Padang, Sumatera Barat,  mencatat telah terjadi 365 kali kebakaran di kota setempat sejak Januari hingga November 2016.


         "Angka ini naik sekitar lima persen daripada tahun 2015 yaitu sekitar 357 kejadian," kata Kepala BPBD PK, Rudi Rinaldy di Padang, Rabu.


         Ia mengungkapkan dari seluruh wilayah yang ada di kota tersebut, lokasi yang paling banyak terjadi kebakaran adalah Kecamatan Kuranji, Kecamatan Padang Timur dan Padang Barat.


         "Ketiga kecamatan ini paling sering terjadi kebakaran yang disebabkan berbagai hal," katanya.


         Ia menambahkan dari data yang dimiliki oleh BPBD PK sekitar 51,4 persen kejadian kebakaran ini terjadi pada malam hari. Sedangkan sisanya terjadi pada pagi dan siang hari.


         "Kita juga mencatat sekitar 27,4 persen kebakakaran ini terjadi pada rumah-rumah penduduk, sisanya terjadi pada kantor, ruko, pabrik dan lainnya," jelasnya.


         Ia mengatakan sebagian besar kebakaran itu terjadi akibat arus listrik yang dipakai di rumah penduduk tersebut lebih besar daripada daya tampung beban listriknya.


         Seperti rumah awal dibangun listriknya hanya mampu menahan beban untuk kulkas dan lampu, beberapa tahun kemudian ditambah mesin cuci dan pendingin ruangan. Sehingga membuat daya listrik dan membuat kabel tersebut terbakar.


         "Ini kelalaian yang sering terjadi sehingga menyebabkan terjadinya kebakaran, selain kompor meledak atau dipicu penyebab lainnya," katanya.


         Ia mengingatkan masyarakat kota setempat agar lebih peduli terhadap jaringan listrik yang ada pada rumah penduduk dan melakukan perawatan rutin.


         "Kalau mau tidur atau keluar rumah diharapkan semua colokan listrik dilepaskan agar tidak terjadi korsleting," katanya.


         Selain itu pihaknya saat ini memiliki 14 unit mobil pemadam kebakaran yang siap untuk memadamkan api apabila terjadi kebakaran.


         "Namun kita terkendala apabila kebakaran terjadi pada gedung tingkat empat keatas karena tidak ada mobil pemadam yang bertangga," sebutnya.


         Ia mengatakan pihaknya telah mengajukan permohonan mobil tersebut dalam APBD 2017 namun belum bisa dipenuhi karena harganya yang mahal.


         "Satu unit mobil pemadam yang bertangga itu saja harganya mencapai Rp14 miliar, dan kita butuh mobil tersebut untuk memadamkan api yang terjadi pada gedung bertingkat," katanya.


         Sementara salah seorang warga, Kuranji Nurahmi (53) mengatakan dirinya berharap ada solusi yang dberikan oleh pemerintah kepada warga yang menjadi korban kebakaran. Karena mereka kehilangan harta benda seperti rumah, toko atau yang lainnya.


         "Jika selama ini hanya ada bantuan spontan yang diberikan pemerintah, belum bantuan jangka panjang terhadap kehidupan para korban kebakaran," katanya.   (*)