Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat Politik Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Edi Indrizal mengatakan pengangkatan kembali Setya Novanto menjadi Ketua DPR semakin membuat citra lembaga DPR buruk di mata publik.
"Selama ini lembaga citra DPR sudah buruk di mata publik dibanding lembaga negara lainnya dan pengangkatan ini bukan memperbaiki citra namun sebaliknya," katanya di Padang, Senin.
Menurutnya memang pengangkatan Novan merupakan mekanisme internal yang dilakukan oleh Partai Golkar didukung dengan berbagai faktor eksternal.
"Faktor eksternal ini seperti kuatnya relasi elite partai politik dan relasi lintas partai yang membuat dirinya bisa kembali menjabat sebagai Ketua DPR RI," terangnya.
Ia mengatakan sebelumnya Setya Novanto mengajukan pengunduran diri sebagai Ketua DPR RI ketika Mahmakah Majelis Dewan (MKD) akan menyidangkan dirinya terkait kode etik pada Desember 2015.
"Dalam MKD itu sendiri hingga saat ini masih terjadi pro dan kontra terkait proses tersebut," ungkapnya.
Bahkan, lanjutnya sebagian anggota MKD itu ada yang menganggap kasus tersebut telah tuntas dengan pengunduran diri Setya. Namun tak sedikit juga yang menyatakan kasus ini belum tuntas.
"Namun yang pasti pengangkatan kembali Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI tidak membuat citra DPR semakin baik," katanya.
Sementara Pengamat Hukum Tata Negara Universitas Ekasakti (Unes) Otong Rosadi menyatakan dalam menegakkan aspek hukum hendaknya aspek moral juga diikutsertkaan.
"Sebenarnya dalam aspek hukum pengangkatan kembali Setya Novanto sudah sesuai dengan Undang undang MD3 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD serta tatib DPR," sebutnya.
"Hanya mungkin persoalan ini menyinggung aspek budaya hukum seperti moral dan kepatutan dalam masyarakat," imbuhnya.
Ia mengatakan dengan munculnya Setya menjadi Ketua DPR tentunya akan menimbulkan preseden buruk bagi masyarakat terkait lembaga yang akan dipimpinnya tersebut. (*)