Jakarta,  (Antara) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) M Tito Karnavian mengatakan rehabilitasi para napi terorisme kurang berhasil sehingga masih banyak napi dan mantan napi yang terlibat kasus yang sama.


         Usai dilantik menjadi Kepala BNPT oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, Tito mengatakan kasus latihan militer di Aceh dan bom Thamrin menunjukkan keterlibatan para napi terorisme.


        "Rehab kita kurang bagus. Bayangkan saya pernah menangani operasi di kamp militer di Jatho, Aceh. Itu semua dilaksanakan tokoh-tokohnya yang merencanakan dalam Lapas Cipinang. Ada Abu Bakar Ba'syir, ada Maman Abdurahman, Wawan, Rois. Dul Matin pun datang ke situ," katanya.


        Ia mengatakan Densus 88 Anti Teror Polri juga menemukan bahwa ledakan bom Thamrin direncanakan di dalam Lapas Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.


       "Sehingga perlu ada penanganan dan rehabilitasi pascapenegakkan hukum. Setelah masuk ke dalam penjara, itu harus ada kegiatan tertentu termasuk 'treatmen' (penanganan) agar mereka tidak melakukan aksinya lagi atau tidak mempengaruhi atau setelah dilepas  tidak kembali ke jaringannya," kata mantan Kapolda Metro Jaya itu.


        Ia mengatakan rehabilitasi para napi terorisme akan menjadi salah satu fokus utama BNPT selain tetap fokus pencegahan, penanggulangan dan penindakan.


        "Nah yang domain utama dari BNPT adalah pada pencegahan dan rehabilitasi. Ini dilakukan dengan melibatkan semua pihak karena tidak satu hanya instansi, bahkan tidak cukup dengan pemerintah. Harus juga dengan lembaga nonpemerintah, termasuk 'civil society'," katanya.


        Terkait dengan program penegakkan hukum, mantan Kapolda Papua ini mengatakan penegakkan hukum akan berkoordinasi dengan kepolisian, kejaksaan dan instansi lainnya.


        Dia juga akan menggandeng lembaga intelijen antara lain Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Startegis (Bais), intelijen Polri dan intelijen lembaga lainnya.


        Ia mengatakan singkronisasi data antarlembaga intelijen akan membuat analisa penanggulangan terorisme makin tajam dan akurat.


        Tito dilantik menjadi Kepala BNPT menggantikan Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun. Dengan jabatan baru ini, Tito akan naik pangkat menjadi jenderal polisi berbintang tiga dan menjadi perwira polisi pertama di angkatan 1987 yang mendapatkan jabatan bintang tiga.


        Alumni terbaik Akademi Kepolisian tahun 1987 ini juga menyandang gelar doktor ilmu kepolisian dan sudah terlibat menangani kasus terorisme belasan tahun. (*)