Achiruddin Latef adalah anak Kepala Nagari ( Nagarihoofd) Sungai Tarab, Baatusangkar. Latief sang ayah, adalah orang pergerakan padazaman colonial Belanda dan bergerak di bawah tanah. Dia mempunyai kebun kopi di lereng Gunung Merapi. Di sinilah anggota pergerakan yang sikejar-kejar Belanda disembunyikan. Akan tetapi, Belanda mencium aktifitas Latief dan segera menangkapnya. Kepala nagari itu dibuang ke Sunda Kecil yang kini bernama Nusa Tenggara. Ketika masa pembuangannya habis, Latief ke Sungai Tarab.Atas desakan rakyat, ia diangkayt kembali menjadi kepala nagari. Berkat kepemimpinannya, pemerintah Belanda menghqdiahinya bintang penghargaan yang diberikan Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Sungguhpun demikian, Latief tidak merasa terangkat dengan penghargaan tersebut. Ia tetap saja seorang anggota pergerakan sampai akhir hayatnya. Keteladanan sang ayah menjadi acuan morel bagi Achiruddin kemudian hari. Bersama kakaknya, Awaluddin Latief, ia terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dari tahun 1945 sampai tahun 1950. Sang kakak Awaluddin, bahkan diangkat menjadi kapten karena perjuangannya yang luar biasa, padahal sebelumnya ia bukanlah anggota tentara. Awaluddin mendapat penghargaan mulai dari Presiden Soekarno sampai Presiden Soehart, dari Menteri Pertahanan Djoeanda sampai Ke Pangab Try Sutrisno. Adapun Achiruddin Latief sendiri sudah aktif sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Ia menjadi anggota Tentara Pelajar Sumatra Tengah dan ketika Aksi Militer II dilsncsrksn Belanda, Achiruddin ikut dalam barisan gerilya. Setelah perang selesai ia terdaftar sebagai anggota demobilisian pelajar dan mendapatpenghargaan veteran pejuang kemerdekaan. Dewasa ini Achiruddin Latief aktif dalam kegiatan pendidikan melalui Yayasan Amalan yang didirikan bersama kawwan dekatnya. Kini yayasan tersebut sudah mempunyai beberapa sekolah untuk anak-anak terutama di kota-kota di kabupaten di Sumatera Barat. Dalam pertemuan dengan Gubernur Azwar Anas Tahun 1987 disepakati bahwa Yayasan Amalia akan menerapkan system belajar dan mengajar seperti yang silakukan oleh A Azhar di Jakarta, khususnya mengenai pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Sampai saat ini kerja sama dengan Al Azhar tetap berjalan dengan baik. Nama yayasan Amalan sebenarnya adalah singkatan nama para pendirinya yaitu Anas Manaf, Achirudddin Latief, dan Ali Noerloedin. Sampai saat ini yayasan tersebut terus berkembang dan menjalankan midinyan dengan baik. Sebagai veteran pejuang kemerdekaan, Achiruddin Latief selalu mengambil bagian dalam kegiatan organisasi pejuang. Obsesinya yang paling besar ialah bagaimana memberi penghargaan yang pantas terhadap tokoh-tokoh pejuang di daerah yang berkaliber nasional. Salah seorangnya almarhum Chatib Sulaiman, seorang tokoh pejuang sejak zaman pergerakan kebangsaan yang gugur dalam Peristiwa Situjuh pada bulan januari 1949. Chatib Sulaiman adalah seorang pelopor pembaharuan pendidikan pesantren di Padang Panjang, dimana sebagai guru antara lain memperkenalkan musik suling. Selain itu ia adalah salah seorang tokoh PNI pendidikan yang didirikan oleh Hatta dan Sutan Syahrir. Pada zaman jepang di Kutacane, Aceh karena dituduh menyiapkan pemberontakan, namun kemudina dibebaskan karena kepemimpinannya diperlukan oleh Jepang. Bagi Sumatra Barat ia adalah Bapak TNI karena pada Jepanglah atas usulan dan inisiatifnya dibangun sekolah perwira Gyu Gun di Bikittinggi di mana ia menciptakan lagu mars Gyu Gun. Eks perwira-perwira Gyu Gun kemudian melahirkan perwira-perwira TNI generasi seperti Dahlan Djambek. Di lapangan politik dan militer Chatib Sulaiman dipandang sebagai seorang strateg yang berbobot nasional. Berbagai upaya dilakukan banyak pihak, termasuk Pemda Sumatra Barat agar ia diberi gelar Pahlawan Nasional namun belum berhasil. Achiruddin merasakan hal ini sebagai suatu kejanggalan dan dengan berbagai cara ia mencoba agar tokoh Chatib Sulaiman diakui sebagai pahlawan nasional. Pada tanggal 17 agustus1950 dilnagsungkan perayaan kemerdekaan acara secara besar-besaran di Bukittinggi sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah. Ini adalah perayaan kemerdekaan yang pertama sesudah masa gerilya. Saat itu dikenang Achiruddin karena ia ikut panitia penyelenggara perayaan tersebut. Tahun 1956 ia menjadi utusan ax-Tentara Sumatera TEngah yang mengdakan kongres di Yogyakarta. Sampai saat ini ia aktif sebagai anggita koordinasi ex-Tentara Pelajar di Jakarta serta organisasi veteran lainnya. Dewasa ini terdapat kecenderungan yang keras kepada sikap egoisme, sikap mementingkan diri sendiri secara berlebihan. Akibatnya cita-cita perjuangan yang murni ditinggalkan. Mengenai hal ini Achiruddin berucap,