
PBB: Hampir 85.000 Warga Sudan Selatan Mengungsi ke Sudan

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan kelompok bantuan telah melaporkan hampir 85.000 orang telah menyelamatkan diri dari kerusuhan di Sudan Selatan ke Sudan sejak pertengahan Desember 2013, kata juru bicara PBB. "Lebih sepertiga dari mereka berada di lokasi (penerimaan) Kilo 10 di Negara Bagian Nile, Sudan, banyak dengan akses terbatas ke air bersih dan kebersihan," kata Stephane Dujarric dalam taklimat harian di Markas PBB pada Kamis (29/5). Dengan kedatangan musim hujan, organisasi kemanusiaan prihatin mengenai akses dan kondisi di Kilo 10, yang rentan terhadap banjir, kata Dujarric. "Mereka bekerjasama dengan Pemerintah Sudan guna membantu menempatkan kembali orang Sudan Selatan ke daerah yang lebih aman," kata juru bicara PBB tersebut. "Organisasi kemanusiaan terus menyediakan bantuan buat orang Sudan Selatan yang baru tiba di Sudan," kata Dujarric, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang. "Mereka telah menjangkau lebih dari 50.000 orang dengan bantuan, termasuk makanan dan air, sejak pertengahan Desember. Seruan kemanusiaan itu untuk membantu warga Sudan Selatan di Sudan cuma 36 persen didanai." Pertempuran di Sudan Selatan meletus pada Desember lalu, ketika bentrokan meletus antara tentara yang setia kepada Presiden Salva Kiir dan yang lain yang setia kepada mantan presiden Riek Machar. Kiir menuduh Machar memimpin kudeta melawan dia, tapi Machar membantah tuduhan tersebut. Saat pertempuan meningkat, Machar melarikan diri dari Ibu Kota Sudan Selatan, Juba, dan mulai memimpin pemberontakan melawan Kiir, serta menyeru presiden itu meletakkan jabatan. Konflik tersebut segera berubah menjadi bentrokan suku antara dua kelompok terbesar di Sudan Selatan --Dinka dan Nuer. Kiir adalah orang Dinka, sedang Machar berasal dari suku Nuer. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
