Logo Header Antaranews Sumbar

Panglima Militer Mali Ajukan Mundur Setelah Kekalahan Kidal

Jumat, 30 Mei 2014 06:21 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/Reuters/AFP) - Panglima militer Mali, Jenderal Mahamane Toure, menawarkan untuk mundur Kamis setelah upaya militer gagal untuk merebut kota separatis Tuareg, Kidal, kata tiga sumber militer. Jenderal Toure, jika pengunduran dirinya diterima oleh Presiden Ibrahim Boubacar Keika, akan menjadi pejabat senior kedua yang mengundurkan diri setelah Menteri Pertahanan Soumeylou Boubeye Maiga berhenti Selasa, setelah pertempuran yang menyebabkan 50 warga Mali tewas. "Dia mengajukan surat pengunduran dirinya kepada presiden pagi ini. Kami belum memiliki jawaban, kita tidak tahu apakah itu akan diterima atau tidak," kata satu sumber militer yang dekat dengan jenderal tersebut kepada Reuters. Sumber militer lain yang dekat dengan kantor kepresidenan Mali mengonfirmasi bahwa panglima militer telah menawarkan untuk mengundurkan diri. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Mali Soumeylou Boubeye Maiga, Selasa mengundurkan diri, sepekan setelah pasukan pemerintah dikalahkan oleh pemberontak bersenjata di kota timur laut bergolak Kidal, kata seorang juru bicara presiden. "Menteri Pertahanan Mali telah mengajukan pengunduran dirinya dan telah diterima," kata juru bicara itu kepada AFP. Penggantinya akan segera diumumkan, katanya menambahkan. Kelompok-kelompok bersenjata termasuk separatis Gerakan Nasional Tuareg untuk Pembebasan Azawad (MNLA) mempermalukan tentara dalam serangan mematikan di seluruh gurun utara pekan lalu, yang menunjukkan mereka menguasai Kidal, 1.500 kilometer (900 mil) timur laut Bamako. Pemerintah Mali Jumat menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan MNLA selain sesama kelompok pemberontak Dewan Tinggi untuk Persatuan Azawad (HCUC) dan Gerakan Arab Azawad (MAA) setelah ditengahi oleh Uni Afrika. Kidal adalah tempat lahir gerakan separatis Tuareg Mali, yang menginginkan kemerdekaan bagi bagian besar gurun utara yang mereka sebut "Azawad" dan telah meluncurkan beberapa pemberontakan sejak 1960-an. Pada Minggu, Maiga mengatakan bahwa 50 tentara telah tewas dalam pertempuran baru-baru ini dengan pemberontak bersenjata, dan 48 lainnya terluka. MNLA mengakhiri pendudukan sembilan bulan atas kantor gubernur Kidal pada November tahun lalu, sebagai salah satu syarat dari kesepakatan perdamaian Juni yang memuluskan jalan bagi pemilihan presiden. Tetapi proses ini sangat memecah MNLA. Negara ini turun ke dalam krisis pada Januari 2012, ketika MNLA meluncurkan terbaru dalam serangkaian pemberontakan Tuareg di utara, yang tentara dengan peralatan kurang menyatakan siap membela. Satu kudeta berikutnya di Bamako menyebabkan kekacauan, dan gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida mendukung Tuareg untuk menguasai gurun utara Mali. Sebuah operasi militer yang dipimpin Prancis diluncurkan pada Januari 2013 mengusir para pegaris keras, namun serangan sporadis terus berlangsung dan permintaan Tuareg untuk otonomi belum diselesaikan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026