Logo Header Antaranews Sumbar

LSM Indonesia Prihatin Pelanggaran HAM Kamp Tindouf

Sabtu, 24 Mei 2014 14:47 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Jaringan Masyarakat Sipil Indonesia menyatakan rasa keprihatinan terhadap kasus dugaan pelanggaran HAM di dalam kamp Tindouf yang berlokasi di wilayah Aljazair, dekat perbatasan dengan Sahara, Maroko. "Atas keprihatinan tersebut kami mendirikan Solidaritas Indonesia untuk Sahara atau Soli Sahara," kata Ketua bidang Luar Negeri Jaringan Aktivis Pro Demokrasi, Teguh Santosa melalui siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu. Teguh yang adalah Ketua bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah mengatakan dengan mendirikan Soli Sahara, pihaknya ingin mendorong dunia internasional untuk menyelidiki dengan seksama kehidupan di dalam kamp Tindouf. "Sudah terlalu banyak laporan mengenai pelanggaran HAM di dalam kamp pengungsi itu, namun sejauh ini belum ada tindakan nyata untuk menghentikannya," katanya. Kamp Tindouf berada di wilayah Aljazair, dekat perbatasan dengan Sahara Maroko. Kamp ini awalnya menampung orang-orang Sahrawi yang mengungsi menyusul konflik Polisario dan Maroko yang bermula pada 1976. Kamp ini merupakan markas kelompok Polisario. Sejak pertengahan era 1970an lalu kelompok ini mengklaim wilayah selatan Maroko sebagai negara merdeka dan berdaulat. Tahun 2010, Teguh mengatakan dirinya pernah mengunjungi wilayah Sahara Maroko yang sering disebut Sahara Barat. Dalam kunjungan itu ia bertemu dengan orang-orang yang melarikan diri dari Tindouf karena kekerasan yang dilakukan Polisario. "Kasus pengungsi melarikan diri dari Tindouf terus terjadi sampai kini. Mereka membawa cerita yang sama, cerita kekejaman rezim Polisario," katanya. Teguh menambahkan, Pada 2011 dan 2012 dirinya seorang petisioner yang memberikan penjelasan dalam pembahasan konflik Sahara Barat di Komisi IV PBB di New York. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan dukungan agar UNHCR melakukan sensus untuk mengetahui kehidupan pengungsi di Tindouf. "Beberapa tahun terakhir ditemukan indikasi kuat bantuan kemanusiaan menjadi objek korupsi elit Polisario dan dijual ke negara lain di Afrika. Juga mulai muncul indikasi kuat aktivitas terorisme di kawasan Sahel atau Sub Sahara melibatkan jaringan di Tindouf," katanya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026