Logo Header Antaranews Sumbar

LSM Yasehati Selenggarakan School Of Empathy Indonesia

Rabu, 24 Oktober 2012 11:13 WIB
Image Print

Jakarta, (ANTARA) - LSM Yayasan Semangat dan Sehat Indonesia (Yasehati) yang bergerak antara lain untuk memberikan bantuan pemulihan psikologis bagi para korban bencana alam di Tanah Air, menyelenggarakan program School of Empathy Indonesia. Siaran pers Yasehati yang diterima di Jakarta, Rabu, menyebutkan School of Empathy merupakan program yang bertujuan memperkenalkan teknik intervensi baru melalui hasil penelitian sejak tahun 1998 guna mengintegrasikan dan meningkatkan kecerdasan emosi, sosial, spiritual, bahkan meningkatkan kesehatan tubuh. Rilis itu menyebutkan, metode tersebut ditemukan oleh Prof Dr Marcus Stueck (University of Leipzig, Jerman) merupakan integrasi dari 2 teknik intervensi, yaitu "Non Violent Communication" (Marshall Rosenberg dari AS) dan Biodanza (Rolando Toro dari Chile). Selain itu, School of Empathy Indonesia juga merupakan cabang keempat di tingkat internasional setelah negara Austria, Latvia, dan Ukraina. Peluncuran School of Empathy Indonesia dilatarbelakangi antara lain pemahaman bahwa kemajuan teknologi membuat manusia sangat akrab dengan beragam perangkat komunikasi, tetapi tanpa disadari terjadi proses "banjir informasi" yang efek psikologisnya depresi, kesepian, adiksi internet. Berbagai macam hal tersebut dinilai mengakibatkan manusia menjauh dari pergaulan sosial dan merasa terisolasi yang kemudian menimbulkan masalah di rumah, sekolah dan dunia kerja. Kemajuan teknologi juga menjadikan individu semakin tidak terhubung secara langsung dengan individu lain dan merasa kesepian di tengah keramaian, sehingga individu kesulitan mengekspresikan emosinya, kurang berlatih mendengar dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Tuntutan pekerjaan orangtua dan pendidikan anak di sekolah juga menjadikan individu mudah stress bahkan depresi yang kemudian menimbulkan gejala psikosomatis. Pendidikan yang sangat menekankan pada prestasi akademis, bukan pada proses belajarnya menjadikan keunikan individu siswa terabaikan berikutnya menghambat proses penemuan jati diri, sehingga menjadi penyebab anak dan remaja tumbuh menjadi individualis dan kurang peka pada lingkungan sosial. Padahal, stress yang berkepanjangan membahayakan kesehatan dan perkembangan mental anak, menurunkan kekebalan tubuh, merusak sistem pencernaan, menghambat pertumbuhan, serta merusak emosi, fisik dan sel otak anak. School of Empathy Indonesia menggunakan antara lain teknik intervensi Biodanza yang merupakan pendekatan yang unik yang mengutamakan ekspresi diri dan regulasi swadaya dengan menggabungkan berbagai kekuatan antara lain kekuatan musik, kekuatan gerak/tari, dan kekuatan interaksi kelompok. Program School of Empathy Indonesia itu mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI Jaya), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan berbagai perguruan tinggi serta lembaga pendidikan di Indonesia. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026