Logo Header Antaranews Sumbar

Terapi Musik Bantu Anak Autis di Nepal

Sabtu, 5 April 2014 17:53 WIB
Image Print

Kathmandu, (Antara/Xinhua-OANA) - Bono, vokalis U2, grup band kondang Irlandia, pernah mengatakan bahwa "musik dapat mengubah dunia sebab musik dapat mengubah manusia", dan itu lah yang sedang dilakukan oleh satu grup musik terapis pada anak autis di Nepal. Ketika Rahul (bukan nama asli) berusia tiga tahun, ia masih tak bisa berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Saat itu lah ibunya menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putranya. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter sang ibu mengetahui bahwa Rahul --yang sekarang berumur enam tahun-- adalah anak autis. Banyak ahli percaya bahwa autism spectrum disorder (ASD) muncul pada tiga tahun pertama pertumbuhan anak. Kondisi itu adalah akibat dari gangguan syaraf yang memiliki dampak pada fungsi otak normal, sehingga mempengaruhi kemampuan komunikasi dan interaksi sosial seorang anak. Beberapa studi menyatakan bahwa anak autis memperlihatkan ekspresi emosi dan keterlibatan sosial selama babak terapi musik, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu petang. Saat ini, ada 15 anak autis yang memperoleh manfaat dari kekuatan musik melalui babak terapi individu dan kolektif dalam satu pekan, sebagai bagian dari gagasan yang diluncurkan oleh Music Therapy Trust Nepal. "Dengan terapi musik kami menangani lima daerah perkembangan: komunikasi, kesadaran, gerakan motoris, keterampilan emosi dan sosial," kata Gandharba, salah seorang dari hanya terapis musik bersertifikat di Nepal. Di dalam ruang terapi musik, wartawan Xinhua bertemu dengan Shyam (bukan nama asli), saat ia dengan malu-malu duduk di depan keyboard. Sambil tersenyum pada sang terapis, anak lelaki yang berusia 10 tahun itu mulai menekan keyboard dan kemudian mengimprovisasi beberapa irama pada alat musik tersebut. "Ia adalah salah satu dari anak yang paling sulit," kata Ghandarba, yang berasal dari masyarakat musikus. Memainkan dan berbagi instrumen, terlibat dalam permainan musik dan menyanyi hanya lah segelintir cara yang diupayakan para terapis untuk berinteraksi dengan anak autis. Anak autis bebas untuk memilih alat musik pilihan mereka. Selama babak terapi musik kolektif, mereka bukan hanya mempelajari cara berinteraksi dengan para terapis tapi juga di antara mereka. Namun terapi musik masih berada pada tahap embrio di Nepal, tempat autisme tetap menjadi tabu di daerah pedesaan di negeri itu. "Di beberapa desa, saya telah melihat orang dengan gangguan mental atau fisik; mereka diikat dan diperlakukan seperti hewan," kata Ghandarba. Ia menambahkan berbagai upaya mesti dilakukan untuk memperkenalkan terapi musik di daerah pedesaan di Nepal. AustismCare Nepal (ACN) memperkirakan ada 30.000 sampai 60.000 orang yang menderita autis di negeri tersebut, tapi jumlah itu mungkin tidak tepat sebab ada banyak kasus yang tak terdiagnosis atau dilaporkan, terutama di daerah pedesaan. Organisasi tersebut menggelar beberapa acara berbeda dalam kerangka kerja Hari Kesadaran Autisme Dunia untuk mendidik, menciptakan kesadaran di kalangan orang tua mengenai hak anak penderita autisme. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026