
Mantan PM Khawatirkan Libya akan Jadi Pangkalan Teror

London, (Antara/AFP) - Mantan perdana menteri Libya Ali Zeidan Selasa memperingatkan bahwa kelompok-kelompok Islam sedang menyabot usaha-usaha untuk membangun kembali negaranya untuk menjadikan Libya sebagai pangkalan kelompok garis keras. Zeidan, yang melaikan diri ke Jerman setelah dipecat parlemen awal bulan ini, dalam wawancara dengan surat kabar The Times mengatakan ia sedang bersiap untuk pulang "mungkin dalam waktu segera" untuk membantu memulihkan ketertiban dan menumpas ancaman ekstremisme, dua setengah tahun setelah pembunuhan penguasa kawakan Muamar Gaddafi. "Libya bisa menjadi pangkalan bagi Al Qaida untuk melakukan operasi ke Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, Maroko dan ke negara-negara lain," kata mantan perdana menteri itu, yang berada di London untuk bertemu dengan para politisi Inggris, kepada surat kabar itu. "Rencana saya adalah memperjuangkan reformasi negara itu, menstabilkan situasi". Ia menyatakan kelompok-kelompok seperti Al Qaida dan Ikhwanul Muslimin memanfaatkan perpecahan di negara yang ia perintah selama 15 bulan itu. "Orang-orang ini tidak menginginkan Libya menjadi satu negara sipil, negara hukum, mereka menginginkan seperti apa yang terjadi di Afghanistan," katanya. Zeidan, yang independen, tidak dapat mengendalikan mantan milisi pemberontak sejak pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan diktator Gaddafi. Mosi tidak percaya parlemen-- yang dipicu ketika sebuah kapal tangki minyak memuat minyak mentah dari satu terminal yang dikuasai pemberontak menerobos satu blokade angkatan laut dan melaririkan diri ke laut lepas disetujui 124 dari 194 anggota Kongres Nasional Umum (parlemen). Zeidan mengklaim dua kelompok politik berada dibelakang pemecatannya sebagai perdana menteri: gerakan Wafa, dan Partai Keadilan dan Pembangunan yang dalah bagian politik dari cabang Ikhwanul Muslim untuk Libya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
