
Kemenkeu Pastikan Penerbitan Sukuk Global Semester Dua

Jakarta, (Antara) - Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan memastikan penerbitan sukuk global pada semester dua 2014 yang akan dilakukan sesuai dengan perkembangan terkini dalam pasar keuangan syariah. "Ini semester dua tahun 2014, dengan tenor (sukuk) yang tergantung dari appetite investor," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Robert Pakpahan di Jakarta, Selasa. Robert menambahkan sukuk ini memiliki underlying asset berupa 51 persen Barang Milik Negara dan 49 persen proyek pemerintah yang tercantum dalam APBN dengan nominal yang disesuaikan dengan benchmark size nominal 500 juta dolar AS. "Diversifikasi struktur sukuk global sedang dilakukan, kita masih rileks soal ini, tapi nanti kita lihat lagi," ujarnya. Sedangkan terkait penerbitan obligasi berdenominasi euro yang menurut rencana dilakukan pada akhir semester satu, Robert mengatakan, hal tersebut masih menjadi pertimbangan pemerintah karena sedang menunggu respon positif investor. "Kayaknya penerbitan euro tidak ada masalah, tujuan kita untuk diversifikasi, mencari market baru bagi kami. Kalau laku kita terbitkan lagi, untuk menambah kapabilitas dalam penerbitan utang, seperti samurai bond," katanya. Sebelumnya, pada September 2013, pemerintah pernah menerbitkan sukuk global sebesar 1,5 miliar dolar AS yang akan jatuh tempo 2019 untuk memperkokoh posisi di pasar keuangan syariah global. Sukuk global itu telah memperoleh peringkat Baa3 dari Moodys, BB+ dari S&P dan BBB- dari Fitch, dengan tenor 5,5 tahun dan akan jatuh tempo pada 15 Maret 2019. Sukuk global tersebut diterbitkan pada harga pasar dengan imbalan senilai 6,125 persen. Tingkat imbalan itu lebih rendah 25 bps dari pada harga perkiraan awal yang berada di kisaran 6,375 persen. Penerbitan sukuk global yang ke empat itu merupakan penerbitan terbesar oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 2009 dan kedua kalinya diterbitkan di bawah Program Penerbitan Sukuk Global (Islamic GMTN). Transaksi itu mendapat respon yang baik dari para investor global dan lokal dengan jumlah penawaran pembelian mencapai 55,7 miliar dolar AS dari sekitar 300 investor. Sebaran investor berdasarkan wilayah meliputi 20 persen investor Syariah dan Timur Tengah, 15 persen investor Indonesia, 25 persen investor wilayah Asia, 24 persen investor Amerika, dan 16 persen investor Eropa. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
