
Petugas Polisi Tewas Dalam Serangan Langka di Irak Selatan

Baghdad, (Antara/AFP) - Seorang polisi tewas dalam serangan relatif langka di kota pelabuhan Basra Irak Sabtu, sementara pasukan keamanan membuka kembali jalan raya utama setelah merebut kembali satu desa dari gerilyawan. Pertumpahan darah terbaru itu terjadi sehari setelah serangan di seluruh negara itu menewaskan 33 orang, dengan pemboman dan penembakan sebagian besar menargetkan wilayah yang mayoritas terdiri Arab Sunni di Irak utara dan barat, hanya beberapa pekan menjelang pemilu parlemen nasional. Kekerasan di Irak berada pada tingkat tertinggi sejak 2008, dengan kerusuhan didorong terutama oleh kemarahan minoritas Sunni, yang menuduh penganiayaan dilakukan pemerintah yang dipimpin Syiah,, serta tumpahan dari perang saudara di tetangga Suriah. Di Basra, Letnan Kolonel polisi Ihsan Maadhi ditembak mati di depan rumahnya di pusat kota selatan, kata polisi dan sumber medis. Penembakan itu adalah insiden yang relatif jarang terjadi kekerasan di Irak selatan yang mayoritas berpenduduk Syiah, yang masih menderita serangan tetapi pada skala yang jelas lebih rendah daripada Baghdad dan Irak utara dan barat. Di tempat lain pada Sabtu, pasukan keamanan membuka kembali jalan raya utama penting yang menghubungkan Baghdad dan kota utara Kirkuk setelah merebut kembali sebuah desa dari para pejuang anti-pemerintah yang menguasainya selama beberapa jam sehari sebelumnya. Bentrokan di Desa Sarha adalah bagian dari kekerasan nasional yangmeninggalkan 33 orang tewas, termasuk pemboman terkoordinasi larut malam terhadap rumah seorang mayor polisi di pusat kota Tikrit yang menewaskan empat orang. Serangan-serangan juga melanda tempat-tempat lain di Provinsi Salaheddin, serta provinsi utara bergolak Nineveh dan Kirkuk, serta di provinsi padang pasir barat Anbar. Lebih dari 300 orang telah tewas sejauh bulan ini dan lebih dari 2.000 orang sejak awal tahun, menurut data AFP berdasarkanlaporan dari sumber-sumber keamanan dan medis. Para pengulas dan diplomat telah menyerukan kepada otoritas yang dipimpin Syiah untuk melakukan lebih guna menjangkau minoritas Sunni yang tidak puas dalam upaya mengurangi dukungan kepada militansi, tetapi dengan pemilu pada 30 April, para pemimpin politik telah enggan untuk mengupayakan kompromi. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
