
Pemerintah Diimbau Perhatikan Laboratorium Penelitian

Jakarta, (Antara) - Anggota Dewan Kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Indrawati Gandjar Roosheroe mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan laboratorium penelitian mikroorganisme yang memiliki peran penting untuk masa depan kehidupan. "Pemerintah diimbau memberi perhatian bagi laboratorium-laboratorium yang meneliti kelestarian mikroorganisme di Indonesia. Sebab kita kaya sekali akan mikroorganisme," kata Indrawati Gandjar selepas menyampaikan orasi ilmiah dasa windu bertajuk Quo Vadis Koleksi Biakan Mikroorganisme Indonesia di Jakarta, Kamis. Orasi ilmiah dasa windu itu digelar sebagai seremoni pelantikan Indrawati Gandjar sebagai Anggota Dewan Kehormatan AIPI, yang telah memasuki usia 80 tahun. Menurut dia, Indonesia sebagai sebuah negara yang berada di wilayah tropis memiliki kekayaan mikroorganisme yang harus dimanfaatkan dengan baik. "Kita itu kaya sekali dengan mikroorganisme. Mikroorganisme itu kaya di daerah tropis. Akan tetapi karena ia tidak kasat mata, kerap kali luput dari perhatian," kata perempuan yang juga Guru Besar Emeritus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia tersebut. "Karena tidak kasat mata pula, kita tidak peduli padahal peran mereka besar termasuk dalam urusan penguraian jasad makhluk yang sudah mati," ujarnya menambahkan. Indrawati Gandjar menuturkan bahwa kekayaan mikroorganisme di Indonesia sayangnya tidak diimbangi dengan perhatian yang cukup. "Biasanya memang meskipun negara-negara tropis yang kaya mikroorganisme, tetap saja yang maju dalam penelitian terkait itu adalah negara-negara barat yang sudah lebih canggih," katanya. Meski demikian ia meyakini bahwa transfer teknologi dan ilmu pengetahuan berkaitan dengan mikroorganisme sudah cukup berlangsung baik, hanya saja memang membutuhkan dukungan serius dari pemerintah. "Proses transfer teknologi itu sendiri cukup bagus," ujarnya. Salah satu kerja sama yang pernah terjadi dalam ranah penelitian mikroorganisme antara Indonesia dengan pihak luar pelatihan dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) bagi para mikrobiologiwan dari negara-negara Asia. Kerja sama semacam itu dinilai Indrawati Gandjar cukup baik untuk mengakomodasi transfer teknologi dan pengetahuan dari luar ke Indonesia. Selain Indrawati Gandjar, orasi ilmiah dasa windu juga disampaikan oleh mantan Ketua Komisi Budaya AIPI, Toeti Heraty Noerhadi Roosseno. Toeti menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Dialog dengan Kematian. Kursi Ketua Komisi Budaya AIPI yang ditinggalkan oleh Toeti, digantikan oleh Eko Budiarjo. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
