Logo Header Antaranews Sumbar

2014, BUMN harus Kerja Ekstra Keras

Rabu, 29 Januari 2014 17:10 WIB
Image Print
Menteri BUMN Dahlan Iskan. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta seluruh perusahaan milik negara bekerja ekstra keras agar dapat memainkan peran dalam meredam berbagai sentimen negatif yang timbul pada 2014 yang disebut sebagai tahun politik. "Tantangan ekonomi 2014 tidak seperti seperti tahun lalu (2013), maka masing-masing BUMN harus memeras otak untuk tetap berkembang. Tahun 2013 sulit, tahun ini lebih sulit lagi," kata Dahlan usai seminar BUMN Outlook 2014, "Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015", di Jakarta, Rabu. Menurut Dahlan, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh dikisaran 5,6-6 persen pada 2014, namun BUMN diharapkan mampu tumbuh di atas rata-rata. Ia menambahkan, salah satu tantangan yang dihadapi BUMN terutama berorientasi ekspor pada tahun 2014 adalah kemungkinan berlanjutnya penurunan harga komoditas di pasar internasional, seperti karet, minyak sawit, batubara. Namun untuk menjaga agar kinerja BUMN bisa memenuhi harapan maka pada tahun 2014 setoran dividen kepada APBN diminta diturunkan menjadi Rp32,4 triliun, dari sebelumnya ditetapkan sebesar Rp37 triliun. Alasannya, harga sejumlah komoditi di pasar global sedang terputuk, dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Dengan pengurangan dividen tersebut maka BUMN bisa mengalokaskan dana lebih besar untuk belanja modal atau investasi," ujar Dahlan. Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmanzah mengatakan, pada tahun 2014 setidaknya empat poin yang harus dikedepankan BUMN agar tetap berkembang optimal di tahun 2014. Pertama, menjaga profesionalitas kerja sehingga menghindarkan BUMN terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan. Kedua, visi ke depan yaitu perlunya perencanaan strategis di mana membuat arah pengembangan usaha yang realistis. Ketiga, efisiensi dalam proses bisnis, mengurangi biaya yang membebani operasional untuk dialokasikan pada ekspansi usaha. Ke empat mendorong produksi ke barang-barang bernilai tambah tinggi dan melalui rantai proses yang dapat memperbesar pasar tenaga kerja. "Jika pengawasan sudah dilakukan ditambah dengan empat poin pengelolaan BUMN, maka perusahaan milik negara secara keseluruhan harus diberi target jelas, realistis dan berorientasi masa depan," ujarnya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026