
Sejarawan: Semangat Perjuangan Tan Malaka Harus Diajarkan

Jakarta, (Antara) - Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan semangat dari nilai-nilai perjuangan Tan Malaka harus diajarkan kepada siswa/ siswi di sekolah untuk memahami kebenaran dalam sebuah perlawan terhadap kolonialisme. "Tan Malaka seorang komunis, namun jika dibandingkan dengan koruptor maka lebih jahat mana," kata Bonnie dalam bedah buku berjudul "Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Jilid 4" di Jakarta, Kamis. Dia mengatakan Tan Malaka memiliki gagasan penting dalam perjuangan melawan penjajahan melalui pemikirannya merdeka 100 persen. Selain itu menurut dia, Tan Malaka menguasai enam bahasa, menjadi guru tanpa pamrih, dan mampu menghasilkan karya-karya. "Nilai-nilai itu seharusnya dijabarkan dan dimasukkan dalam pelajaran di sekolah dan diajarkan pada siswa," ujarnya. Langkah itu menurut dia lebih produktif dan berguna dari pada berkutat pada permasalahan pemindahan makam Tan Malaka di Selopanggang, Kediri. Dia mencontohkan buku-buku karya Harry Poeze dijadikan sebagai referensi para guru untuk mentransformasikan nilai-nilai perjuangan Tan Malaka. "Stigmatisasi (Tan Malaka seorang komunis) karena kita tidak belajar sejarah. Stigma itu terkait dengan kepentingan politik bukan pembelajaran sejarah," ujarnya. Pembelajaran mengenai sejarah itu menurut dia penting agar para murid mengetahui pada satu jaman, Indonesia memiliki tokoh sekelas Tan Malaka. Selain itu dia menilai sejarah tidak bisa diluruskan karena objektifitasnya peristiwa yang tidak berulang. "Inter subjektifitas yang ada dalam sejarah itu harus diajarkan sehingga tidak satu arah," katanya. Bonnie membandingkan bahwa generasi sekelas Tan Malaka pada jamannya berdebat pada konsep gagasan yang berimplikasi serius dalam kehidupan politik para konseptor itu seperti ditangkap karena beda pandangan. Namun saat ini menurut dia, masyarakat diperlihatkan para tokoh politik ditangkap bukan karena pertentangan ideologi dan gagasan tetapi karena kasus korupsi. "Harus didorong bagaimana menciptakan politikus sekelas generasi Tan Malaka. Saat ini mungkin para politikus memiliki gagasan namun karena kuatnya politik uang didalam sistem maka ikut terseret," katanya. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam mengatakan gagasan Tan Malaka tetap relevan untuk menjawab ancaman dan tantangan saat ini. Dia mengatakan Tan Malaka tidak mewariskan partai namun meninggalkan pemikiran cemerlang yang dapat diserap parpol mana pun. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
