Logo Header Antaranews Sumbar

Banjir di Serang Mulai Surut

Kamis, 23 Januari 2014 10:24 WIB
Image Print
Banjir. (Antara)

Serang, (Antara) - Banjir yang melanda 14 kecamatan di Kabupaten Serang, Banten, sejak beberapa hari terakhir ini mulai surut, dan ribuan warga yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka masing-masing. Banjir dengan ketinggian air mencapai dua meter akibat meluapnya air Sungai Ciujung itu, kini sudah menyusut dan bahkan warga sudah dapat pulang ke rumahnya masing-masing, kata Kepala Desa (Kades) Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Kamis. "Alhamdulillah banjirnya sudah surut sejak semalam. Jadi untuk warga yang mengungsi di masjid dan sekolah sudah kembali ke rumah masing-masing," katanya. Adapun 14 kecamatan yang terkena banjir tersebut meliputi Kecamatan Cikande, Kopo, Kibin, Jawilan, Keragilan, Padarincang, Carenang, Binuang, Tanara, Petir, Tunjung Teja, Pamarayan, Pontang dan Kecamatan Cikeusal. Di tempat lain, ribuan warga yang mengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Lain halnya bagi warga Desa Undar Andir, Kecamatan Keragilan, puluhan warga memilih bertahan di pengungsian di pinggiran Jalan Tol Tangerang-Merak, tepatnya di Km 57 dengan memasang tenda seadanya. "Hampir semua di 14 kecamatan banjir yang merendam rumah warga itu sudah mulai surut saat ini. Baik di Padarincang dan di Tol sebagian sudah kembali kerumahnya masing-masing," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, Hulaely Asykin. Meski demikian, Heulaely tidak mengetahui jumlah rumah warga yang terendam pada 14 kecamatan tersebut. "Saya belum menerima laporan jumlah seluruh rumah yang terendam. Paling besok," katanya. Sementara Wakil Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah disela-sela meninjau Bendung Pamarayan mengatakan, kejadian tersebut sejak dua tahun lalu dimana akibat meluapnya Sungai Ciujung sehingga Bendung ini tidak dapat menampung debit air yang terus meningkat. "Sama masih seperti tahun-tahun sebelumnya karena pendangkalan pada bendungan ini. Namun untuk pengerukan bendung yang dangkal ini belum bisa direalisasi oleh pemerintah pusat melalui Balai Besar Ciujung-Cidanau Cidurian (BBC3)," katanya. Akibatnya, lanjut Tatu, dengan terjadinya pendangkalan pada Bendung Pamarayan ini sulit untuk diantisipasi agar tidak mengakibatkan banjir meluap Sungai Ciujung sebagai kiriman dari hulu di wilayah Kabupaten Lebak. Meski Pemerintah pusat gagal memberikan anggaran untuk pengerukan di Bendung Pamarayan ini, Lebuh lanjut Tatu mengatakan, akan ditangani melalui anggaran berasal dari Asian Development Bank (ADB), dimana tahun ini akan membangun tanggul sepanjang 11 kilo meter tepatnya di KM 57. "Kemungkinan dari dana berasal ADB tersebut dialihkan untuk pengerukan Bendung Pamarayan yang dangkal ini. Direncanakan tahun ini, dimana saat ini juga masih pada tahap pihak konsultan. Dalam waktu dekat ini juga dilakukan pembebasan lahannya," ungkap Tatu. Di tempat yang sama, Kepala Unit Pelaksana (UPT) Bendung Pamarayan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Hermanto mengatakan, kondisi saat ini sudah mencabut status awas untuk debit di bendung tersebut. Pencabutan status tersebut dilakukan seiring dengan telah turunnya debit air dari 2.400 meter kubik per detik pada Selasa (21/1) malam menjadi 561 meter kubik per detik pada Rabu (23/1) sore. "Dengan perhitungan debit terakhir tersebut tergolong sudah masuk dalam kategori normal," ujarnya. Ia menambahkan status awas yang ditetapkan pihaknya hanya berlangsung selama satu malam saja lantaran memasuki Rabu (23/1) dini hari debit air berangsur turun secara bertahap per satu jam. Penurunan debit terjadi karena kiriman air dari hulu Sungai Ciujung yang berada di Kabupaten Lebak yang menurut informasi intensitas hujan disana sudah menurun, ujarnya. "Status awas sudah kami cabut pada hari ini (kemarin, red) karena debit air sudah menurun hingga batas aman yakni 561 meter kubik per detil pada pukul 17.00 WIB," katanya lagi. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026