Logo Header Antaranews Sumbar

PLN Evaluasi Pemenang Lelang Dua Pembangkit ECA

Rabu, 22 Januari 2014 19:58 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Perseroan Terbatas PLN tengah mengevaluasi pemenang lelang dua proyek pembangkit listrik, yakni PLTA Jatigede dan PLTGU Grati yang didanai dengan skema kredit ekspor (export credit agency/ECA). Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi PLN Murtaqi Syamsuddin usai penandatangan pinjaman ECA untuk proyek PLTG Arun dan PLTG Bangkanai di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa lelang PLTA Jatigede diikuti tiga peserta, sedangkan PLTGU Grati lima peserta. "Untuk PLTA Jatigede diharapkan dapat ditetapkan pemenangnya pada akhir Februari 2014 dan Grati dalam kuartal pertama tahun ini," katanya. PLTA Jati Gede berlokasi di Jawa Barat dengan kapasitas 110 MW yang diperkirakan menelan investasi 150 juta dolar AS. Sementara itu, PLTGU Grati yang berada di Jatim memiliki kapasitas 450--500 MW dengan nilai investasi sekitar 500 juta dolar. Proyek PLTA Jatigede diperkirakan beroperasi pada tahun 2017, sedangkan PLTGU Grati diharapkan lebih cepat, yakni "open cylcle" 360 MW pada tahun 2015, dan sisanya pada tahun 2016, kata Murtaqi. Dengan lelang sesuai mekanisme ECA, kata dia, pesertanya adalah kontraktor sekaligus pemberi dana dalam satu paket. Pada hari Rabu, PLN menandatangani pinjaman ECA untuk proyek PLTG Arun, Aceh berkapasitas 184 MW dan PLTG Bangkanai, Kalteng 155 MW senilai total Rp2,6 triliun. Kredit ekspor tersebut diberikan Finnish Export Credit yang merupakan anak perusahaan Finnvera, sebuah lembaga pembiayaan ekspor yang dimiliki pemerintah Finlandia. Finnvera bertindak pula selaku pemberi jaminan kredit ekspor. Penyaluran kredit dilakukan melalui Bank Standard Chartered. Proyek PLTG Arun dan Bangkanai memakai mesin buatan Wartsila, perusahaan asal Finlandia. Bunga kredit untuk Arun dan Bangkanai ditetapkan 2,1 persen per tahun selama 12 tahun. Setelah ditambah "fee" penjaminan satu persen 100 basis poin (100 basis poin) untuk Finnvera, total bunga yang dibayarkan PLN adalah 3,1 persen per tahun. PLTG Arun yang memperoleh pasokan gas dari Kilang LNG Tangguh, Papua Barat tersebut direncanakan beroperasi awal 2015. Sementara itu, PLTG Bangkanai yang gasnya berasal dari Salamander juga beroperasi 2015. "PLTG Bangkanai akan ditambah 155 MW lagi sehingga mampu memenuhi kebutuhan tiga provinsi sekaligus yakni Kalteng, Kalsel, dan Kaltim," kata Dirut PLN Nur Pamudji usai penandatangan kredit. Skema ECA merupakan utang luar negeri yang akan diberikan langsung ke PLN dan tanpa penjaminan pemerintah. Tingkat bunga dan tenor ECA lebih murah daripada obligasi yang sama-sama tanpa penjaminan pemerintah sehingga memperkecil risiko. Obligasi PLN yang 30 tahun berbunga hingga 5,25 persen. Pendanaan melalui ECA Finnvera untuk Arun dan Bangkanai tersebut merupakan pertama kalinya bagi PLN. Melalui mekanisme ECA, proses birokrasi menjadi lebih pendek daripada pinjaman dengan mekanisne penerusan (sub loan agreement/SLA) yang dua tahap (two step loan), yakni Pemerintah dan PLN. Kalau ECA hanya perlu proses di Tim Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN) yang diketuai Menko Perekonomian, SLA bisa lima menteri, yakni Menteri BUMN, Menkeu, Menteri ESDM, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Menko Perekonomian, dan Gubernur Bank Indonesia. Selain itu, SLA membutuhkan persetujuan DPR, sedangkan ECA tidak perlu karena murni bisnis. Hanya saja, kalau ECA, PLN mesti mencari dahulu pemberi pinjamannya, sementara SLA sudah ditetapkan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026