
Bom Bunuh Diri Tewaskan Lima Prajurit Pakistan

Miranshah, Pakistan, (Antara/AFP) - Sedikitnya lima prajurit tewas dan 34 anggota pasukan keamanan cedera ketika seorang penyerang bunuh diri menabrakkan mobilnya yang berisi bom ke sebuah pos pemeriksaan militer di Pakistan baratlaut, Rabu, kata sejumlah pejabat. Serangan itu berlangsung di daerah Mir Ali di Miranshah, kota utama di kawasan suku Waziristan Utara, yang disebut-sebut sebagai sarang Taliban dan militan terkait Al Qaida di perbatasan dengan Afghanistan. Ansarul Mujahideen, kelompok kurang dikenal yang terkait dengan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. "Itu merupakan pembalasan atas pembunuhan Hakimullah Mehsud oleh pesawat tak berawak AS," kata Abu Baseer, juru bicara kelompok itu, kepada AFP melalui telefon, dan ia mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut. "Kami akan melanjutkan serangan-serangan semacam itu pada masa yang akan datang karena pesawat-pesawat tak berawak terus membunuhi orang-orang kami," tambahnya. Seorang pejabat keamanan senior mengatakan kepada AFP, "sebuah truk yang berisi bom ditabrakkan ke pos pemeriksaan itu ketika aparat-aparat keamanan sedang sholat isya". "Lima prajurit mati syahid," kata pejabat itu, dengan menambahkan bahwa pos pemeriksaan tersebut hancur dan 34 personel keamanan cedera. Waziristan Utara adalah salah satu dari tujuh daerah di kawasan suku semi-otonomi Pakistan, dimana Taliban dan militan terkait Al Qaida memiliki pangkalan-pangkalan yang digunakan untuk merencanakan serangan di Afghanistan. Pakistan dilanda serangan-serangan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan lebih dari 5.200 orang sejak pasukan pemerintah menyerbu sebuah masjid yang menjadi tempat persembunyian militan di Islamabad pada Juli 2007. Kekerasan sektarian meningkat sejak gerilyawan Sunni memperdalam hubungan dengan militan Al Qaida dan Taliban setelah Pakistan bergabung dalam operasi pimpinan AS untuk menumpas militansi setelah serangan-serangan 11 September 2001 di AS. Pakistan juga mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan internasional di Afghanistan. Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al Qaida di kawasan suku baratlaut, dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan. Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan. Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan menentukan untuk menumpas jaringan teror. Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap militansi yang dilakukan AS tidak populer di Pakistan karena persepsi bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan dan penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan Pakistan. Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin Al Qaida Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
