Logo Header Antaranews Sumbar

Ketika sibelang menunjukkan belangnya

Rabu, 4 Maret 2026 04:11 WIB
Image Print
Petugas BKSDA Sumbar dan Tim Pagari sedang memasang kamera treap di Tabuah-tabuah, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sabtu (28/2/2026). ANTARA/Yusrizal

Lubukbasung (ANTARA) - Sabtu (28/2) sekitar pukul 09.30 WIB, Dedi Saputra (35) warga Tabuah-tabuah, Jorong Palupuh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengendarai sepeda motornya menuju ke sawahnya dengan jarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Pria berambut panjang itu, memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan sesampai di lokasi sawahnya.

Dalam perjalanan ke sawah, ia dikagetkan dengan seekor satwa liar jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Satwa dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya itu mencoba untuk mendekatinya.

Melihat satwa itu, ia mencoba memberitahukan kepada Syafril alias Cap (64) saat itu berada di kandang sapi tidak jauh dari lokasi.

Mereka mencoba untuk mengusir, namun harimau sumatera tidak mau pergi dan si raja rimba kelihatan kebingungan.

"Harimau kebingungan dan kami mencoba untuk mengusir dan tidak pergi. Harimau bertahan sekitar 20 menit di lokasi dengan jarak hanya sekitar 15 meter dari kandang dan harimau masuk ke lorong menuju semak-semak," kata Cap.

Ia menduga harimau tersebut dalam kondisi sakit dan seolah-olah memberitahukan kepada mereka kondisi kesehatannya atau minta diobati.

Bisanya harimau sumatera tidak pernah melihatnya belangnya dan apalagi masuk ke lokasi pertanian masyarakat atau perkebunan.

Sebelumnya, harimau sumatera juga mendekati warga saat sedang membersihkan lahan perkebunan pisang di Ladang Ateh, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kamis (26/2).

Pemilik lahan sempat mengabadikan menggunakan telpon genggam miliknya dan kemunculan harimau itu sempat viral di media sosial.

Dengan kemunculan harimau tersebut, ia melaporkan ke Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh.

Pada Sabtu (28/2) siang, Tim Pagari Pasia Laweh beserta warga Tabuah-tabuah melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan harimau.

Di lokasi, Tim Pagari Pasia Laweh mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki dan memasang kamera treap atau jebak di lokasi kemunculan satwa dan perbukitan tidak jauh dari lokasi.

Tim Pagari didekati harimau sumatera

Tim Pagari Pasia Laweh beserta masyarakat Tabuah-tabuah memasang dua kamera treap di lokasi munculnya harimau sumatera.

Kamera treap pertama, dipasang di lokasi kemunculan harimau sumatera di lahan sawah milik warga Tabuah-tabuah, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Untuk lokasi kedua, dipasang daerah perbukitan atau punggungan dengan jarak sekitar 200 meter dari lokasi pertama

Saat Tim Pagari Pasia Laweh dan masyarakat memasang kamera treap, mereka sempat didakati harimau dengan jarak sekitar lima meter.

Beberapa menit harimau langsung menghilang dan masuk ke kawasan hutan.

"Harimau mendekati kami hanya berjalan sekitar lima meter dan langsung menghindar dari kami dengan jumlah sembilan orang itu," kata Ketua Tim Pagari Pasia Laweh Bambang Purnama.

Ia merasa kaget dan takut melihat harimau sumatera secara langsung di alam dengan jarak tidak begitu jauh darinya.

Melihat kondisi itu, ia bergegas untuk memasang kamera treap di lokasi tersebut dan meminta anggota Pagari lainnya beserta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Bambang mengakui baru pertama kali melihat harimau sumatera secara langsung di alam liar. Ini merupakan pengalaman yang cukup luar biasa melihat satwa liar tersebut secara langsung.

Sebelumnya ia hanya melihat harimau hanya di kebun binatang dan siara televisi.

"Ini pengalaman saya sangat luar biasa berteman secara langsung dengan harimau di alam. Selama ini, saya tidak pernah melihat apalagi saat melakukan patroli bersama anggota Tim Pagari Pasia Laweh," katanya.

Kemunculan harimau tersebut mendapatkan perhatian khusus dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

Apalagi satwa tersebut sudah tiga kali ketemu dengan masyarakat di Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar menurunkan petugas beserta Tim Pagari Pasia Laweh dan Pagari Baringin untuk melakukan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar tersebut.

Penanganan interaksi negatif dengan mengumpulkan data dari warga yang melihat langsung harimau sumatera, mencari keberadaan satwa berupa jejak kaki, kotoran dan memasang kamera treap.

"Setidaknya ada enam kamera treap yang kita pasang di sejumlah titik lokasi kemunculan satwa di Tabuah-tabuah dan Ladang Ateh," kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra.

Kamera treap dipasang untuk mengidentifikasi, jenis kelamin dan memantau pergerakan satwa liar, terutama merespons laporan warga mengenai video kemunculan harimau sumatera di lahan perkebunan milik warga.

Pemasangan kamera untuk beberapa hari ke depan dalam memastikan apakah individu-nya sama atau satwa dalam kondisi sakit.

Ia menduga satwa tersebut mengalami sakit, karena kebiasaan harimau tidak pernah melihatkan wujud atau mendekati warga.

Namun satwa ini sudah beberapa kali mendekati warga selama satu Minggu terkahir di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.

"Hasil kamera treap bisa mengidentifikasi apakah harimau dalam kondisi sakit atau tidak," katanya.

Untuk menyikapi itu, BKSDA Sumbar bakal memasang kandang jebak untuk mengevakuasi satwa itu dan apabila masuk kandang jebak, maka dibawa ke lokasi rehabilitasi untuk diobservasi kesehatannya.

Ini untuk menentukan jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan dan lainnya dari satwa tersebut.

"Apabila sakit, satwa itu bakal dirawat sampai kondisi membaik dan setelah itu dilepasliarkan ke kawasan hutan konservasi," katanya.

Ia mengimbau masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dulu di sekitar lokasi kemunculan harimau sumatera, mengandangkan ternak dan menghidupkan api sekitar kandang ternak.

Ini dilakukan agar satwa menghindar dari ternak yang ada di dalam kandang, sehingga tidak mengalami kerugian.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026