Logo Header Antaranews Sumbar

Menjaga nyawa di jalan pulang untuk meluluskan rindu

Senin, 2 Maret 2026 09:03 WIB
Image Print
Arsip - Antusias pemudik naik bus Program Mudik Gratis Lebaran 2025 yang dilaksanakan Pemerintah Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Nirkomala

Mataram (ANTARA) - Setiap menjelang Lebaran, suasana kota-kota di Indonesia berubah. Terminal dipadati orang dengan tas besar di tangan. Pelabuhan dan bandara menjadi ruang pertemuan antara lelah dan harap. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang bergerak serentak menuju satu tujuan yang sama: rumah.

Mudik bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan emosional. Ia memindahkan rindu, menyatukan keluarga, dan menghidupkan kembali ikatan sosial yang sempat terpisah oleh jarak dan pekerjaan.

Di berbagai daerah, denyut itu terasa berbeda, tapi bermakna serupa. Di wilayah kepulauan dan provinsi yang membentang panjang, kompleksitasnya bahkan berlipat.

Arus manusia tidak hanya melintasi jalan darat, tetapi juga menyeberangi laut dan menembus langit. Setiap simpul transportasi menjadi titik krusial yang menentukan apakah perjalanan akan nyaman atau justru penuh risiko.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), suasana itu menemukan wajahnya sendiri. Langit Mataram menjelang Lebaran menghadirkan ritme yang khas. Terminal, pelabuhan, dan bandara menjadi simpul harapan. Orang-orang bergegas, membawa tas dan cerita, menukar penat kota dengan pelukan kampung halaman.

Di provinsi yang menyatukan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa ini, mudik bukan sekadar pergerakan manusia dari satu titik ke titik lain. Ia adalah peristiwa sosial yang menyatukan dua pulau dalam denyut yang sama.

Tahun ini, persiapan mudik 1447 Hijriah terasa lebih dini dan lebih serius. Pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat. Diskon tiket pesawat hingga 18 persen diumumkan.

Program mudik gratis kembali disiapkan. Jalan arteri dari Ampenan hingga Sape disurvei. Operasi Ketupat digelar dengan penekanan pada keselamatan. Semua tampak menjanjikan. Namun, di balik optimisme itu, ada pekerjaan rumah yang tak boleh luput dari telaah.

Mudik adalah ritual tahunan, tetapi tantangannya selalu baru. NTB dengan bentang hampir 500 kilometer dari barat ke timur, dengan jalur darat, laut, dan udara yang saling terhubung, membutuhkan manajemen transportasi yang presisi.

Di sinilah negara diuji, bukan hanya pada kemampuan menyediakan armada, tetapi juga memastikan setiap perjalanan berakhir dengan selamat.

 

Harga terjangkau

Salah satu kabar yang paling menyedot perhatian adalah stimulus potongan harga tiket pesawat hingga 18 persen. Kebijakan ini lahir dari kesadaran bahwa lonjakan permintaan saat Lebaran kerap memicu kenaikan harga.

Mekanisme pasar bekerja, suplai dan permintaan saling dorong. Namun bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, hukum ekonomi sering terasa tidak adil.

Diskon tersebut menjadi langkah korektif. Pemerintah menegaskan pengawasan ketat agar masyarakat benar-benar merasakan penurunan harga. Ini penting, sebab dalam praktiknya harga bisa terlihat mahal karena pemilihan rute transit yang tidak langsung.

Edukasi kepada publik mengenai pilihan penerbangan langsung atau waktu keberangkatan alternatif perlu diperkuat agar diskon tidak sekadar angka di atas kertas.

Di sisi lain, moda darat tetap menjadi tulang punggung mobilitas lokal. Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram menyiapkan program mudik gratis, terutama bagi mahasiswa dan warga berpenghasilan terbatas tujuan Sumbawa, Dompu, dan Bima.

Dukungan dari Kementerian Perhubungan bahkan mengalokasikan bus dari Surabaya menuju Lembar untuk mengangkut mahasiswa NTB di Jawa Timur.

Program ini bukan hanya soal penghematan biaya. Ia adalah bentuk keberpihakan. Dengan empat bus disiapkan dari Mataram dan tambahan armada dari pusat, ratusan orang dapat pulang tanpa beban ongkos. Dampak lanjutannya adalah pengurangan kepadatan kendaraan pribadi yang selama ini memicu kemacetan dan risiko kecelakaan.

Namun akses setara tidak berhenti pada tiket murah atau bus gratis. Kelaikan kendaraan, kompetensi pengemudi, dan standar keselamatan harus menjadi prioritas.

Evaluasi Lebaran sebelumnya menunjukkan masih ada kekurangan pada rambu, infrastruktur jalan, dan pengawasan kapasitas penumpang. Diskon tanpa keselamatan adalah paradoks. Harga terjangkau harus berjalan seiring dengan standar keamanan yang ketat.

 

Infrastruktur dan cuaca

Mudik NTB sangat bergantung pada jalan arteri yang menghubungkan Ampenan hingga Sape. Jalur sepanjang hampir 500 kilometer ini adalah urat nadi ekonomi dan sosial. Setiap lubang kecil dapat menjelma kemacetan panjang.



Pewarta:
Editor: Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026