
AS Berharap India Bujuk Karzai Soal Pasukan

Washington, (Antara/AFP) - Amerika Serikat mengharapkan India dapat membujuk Presiden Afghanistan Hamid Karzai agar menandatangani satu perjanjian yang mengizinkan pasukan AS tetap berada di negara itu, sementara para anggota Kongres menyatakan kemarahan mereka atas penundaan itu. Dalam sidang dengar pendapat di satu komite Senat, seorang pejabat AS menyatakan yakin bahwa Afghanistan akhirnya akan menandatangani satu perjanjian bagi sekitar 12.000 tentara AS untuk tetap tinggal di negara itu setelah tahun 2014, kendatipun Karzai bersikeras bahwa keputusan akan diserahkan kepada penggantinya. "Kunjungan mendatang ke India dapat, saya kira, akan sangat berpengaruh, karena ia sangat sangat menghormati dan memiliki hubungan baik dengan pemerintah India," kata James Dobbins, wakil khusus AS di Afghanistan dan Pakistan, Selasa. Karzai akan mengunjungi India akhir pekan ini. Dobbins mengatakan semua negara kawasan itu -- kecuali Iran-- mendorong Kazai menandatangani perjanjian itu, yang akan mengizinkan pasukan AS untuk tetap berada di Afghanistan untuk melatih tentara dan polisi Afghanistan setelah penarikan resmi akhir tahun depan pasukan tempur yang dikirim tahun 2001 setelah serangan 11 September. Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dan Presiden Rusia Vladimir Putin termasuk di antara para pemimpin yang mendorong Karzai menandatanangni perjanjian itu, kata Dobbins. "Sejumlah dari para pemimpin ini tidak senang dengan kehadiran militer di Asia Tengah itu, tetapi semuanya mengakui bahwa tanpa kehadiran militer internasional dan dukungan ekonomi, Afghanistan berisiko kembali pada perang saudara," kata Dobbins. Perang seperti itu akan membawa satu "peningkatan kelompok-kelompok garis keras, arus pengungsi dan kehancuran dalam perdagangan yang akan mengacaukan kawasan itu secara keseluruhan," kata Dobbins. India tempat Karzai menuntut ilmu,sangat mendukung peran militer AS dan mengeluarkan dana dua miliar dolar AS bantuan konstruksi kepada Afghanistan. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel juga mengatakan dalam kunjungan akhir pekan lalu ke Kabul bahwa ia mendapat jaminan bahwa Afghanistan akhirnya menandatangani Perjanjian Keamanan Bilateral (BSA)itu, yang menetapkan peraturan masa depan bagi pasukan asing termasuk pembatasan serangan terhadap rumah-rumah. Karzai sebelumnya menyetujui perjanjian itu tetapi kemudian mengatakan penandatanganan hanya dapat dilakukan setelah pemilihan presiden April, memperingatkan terhadap kehadiran NATO hanya dapat menimbulkan "lebih banyak ledakan bom dan pembunuhan." Senator Bob Corker, orang penting partai Republik di komite itu, menuduh Karzai "orang yang aneh sifatnya" dan "mitra yang irasioal dan tidak bertanggung jawab." Dobbins mengatakan Karzai mungkin berusaha mempertahankan sikapnya dan berpendapat bahwa AS akan tetap mempertahankan pasukannya di Afghanistan tidaklah jadi masalah. Jajak pendapat menunjukkan bahwa publik AS ingin mengakhiri perang lama negara itu, yang menewaskan lebih dari 2.000 tentara AS. Pada tahun 2011, AS menarik pasukannya dari Irak setelah gagal menjamin satu perjanjian pasukan yang serupa pada akhir perang di Irak dan lebih kontroversial. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
