Logo Header Antaranews Sumbar

Warga Prancis Diculik di Mali

Kamis, 22 November 2012 07:29 WIB
Image Print

Bamako, (ANTARA/AFP) - Seorang warga Prancis kelahiran Portugis diculik oleh orang-orang bersenjata di Mali barat setelah memasuki negara itu dengan mobil dari Mauritania, kata beberapa sumber keamanan, Rabu. Pengejaran dilakukan untuk menemukan pria itu, yang diidentifikasi sebagai Jules Berto Rodriguez Leal (61) dan diculik pada Selasa malam di kota Diema di wilayah Kayes, kata sumber-sumber itu. Dinas Penerangan Mauritania mengatakan, Leal memasuki Mali melalui sebuah pos perbatasan di Gogui. Sebelumnya satu sumber keamanan mengatakan, ada tujuh warga asing yang diculik. Di Paris, Presiden Francois Hollande mengkonfirmasi bahwa seorang warga Prancis diculik di Mali barat dan ia berjanji melakukan segala sesuatu untuk menemukannya. "Kami akan melakukan segala sesuatu yang kami bisa untuk menemukan warga kami," kata Hollande. Dengan penculikan terakhir itu, warga Prancis yang disandera di Mali kini berjumlah tujuh orang. Keenam orang lain ditahan oleh cabang Al Qaida Afrika Utara AQIM. Wilayah Kayes, yang terletak di daerah perbatasan barat Mali dengan Mauritania dan Senegal, bukan merupakan bagian dari Mali utara yang kini dikuasai kelompok muslim garis keras. AQIM kini menahan sembilan orang Eropa, termasuk enam warga Prancis, yang diculik pada September 2010 dan November 2011, sementara MUJAO menyandera sedikitnya tiga orang Aljazair. Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), saat ini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis. Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan. Ansar Dine menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara. Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali. Muslim garis keras itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia. Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja. Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah. Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026