Logo Header Antaranews Sumbar

FTA UBH-Bakomi-Japan Foundation Kerja Sama

Kamis, 28 November 2013 14:10 WIB
Image Print

Padang, (Antara) - Program Studi Teknik Arsitektur (FTA) Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat (Sumbar), kerja sama membentuk Inisiatif Kanca Cilik (IKC) dengan Organisasi Kesiagaan Komunitas (Bakomi) Indonesia, Univeristas Gajah Mada dan Japan Foundation. Kerja sama tersebut telah ditandatangani pada Selasa (26/11) di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Kampus I Ulak Karang, kata Kepala Humas UBH, Indrawadi di Padang, Kamis. Ia menyebutkan, kerja sama ini ditandai pula dengan diadakannya kegiatan deseminasi Program Pengurangan Resiko Bencana (PRB) berbasis komunitas dan simulasi praktis dan pengenalan Model Pengurangan Resiko Bencana. Kegiatan tersebut dibuka Wakil Rektor I UBH, Dr Eko Alvares, diikuti oleh guru dan pelajar Sekolah Dasar (SD), Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya. Ia menambahkan, kegitan itu bertujuan untuk menciptakan dan menumbuhkan masyarakat Sumbar khususnya Kota Padang dalam mengurangi risiko bencana berbasis komunitas. Nurhadi dari Tim Bapomi Indonesia menyebutkan, semua orang telah tahu Indonesia itu negara yang rawan bencana sehingga wajar saja bila disebut supermarket bencana. Meskipun demikian, tambahnya, tentu harus siap dan berlatih bersama-sama dalam menanggulangi setiap bencana yang akan datang. "Walaupun kita berada di kawasan yang rawan bencana tapi kita harus siaga dan bersahabat dengan bencana. IKC-Bapomi sangat apresisasi sekali dengan keinginan UBH menjadi motor dalam mengadakan kegiatan deseminasi ini," katanya. Menurut dia, kegiatan serupa juga telah dilakukan oleh Univeritas Gajah Mada untuk murid-murid SD di Yogyakarta. Wakil Rektor I UBH, Eko Alvares dalam sambutannya menyebutkan, bahwa kami menyadari Sumbar merupakan daerah yang rawan bencana begitu juga dengan kampus UBH yang berlokasi di daerah tepi pantai. Untuk itu, tambahnya, perlu dipersiapkan kondisi kampus dan mahasiswa yang siaga bencana. "UBH telah memindahkan sebagian fakultasnya ke Kampus Proklamator II di daerah yang cukup aman, kami juga telah memiliki pusat studi bencana bahkan pada program pascsarjana. Kami juga membuka konsentrasi penanggulangan risiko bencana," katanya. Menurut dia, kegiatan mahasiswa di UBH juga telah melakukan simulasi dan pelatihan untuk kesiapsiaggan dalam menghadapi bencana yang akan datang dan beberapa dosen juga banyak diundang untuk menjadi pembicara dan pelatih dalam pendampingan kepada masyarakat untuk mengurangi resiko bencana. Kampus Prokalamator I UBH juga telah dipasangkan satelit pemantau gelombang dari LIPI dan early warning system dari BNPB yang berguna untuk penanggulangan bencana di kemudian hari. "Kampus kami juga berkeinginan menjadi kampus yang siaga bencana," tambahnya. Hiruka Nagata dari Japan Foundation menjelaskan, materi mengenai program Iza Kaeru Caravan. Program tersebut mengenai pelatihan penanggulangan resiko bencana bagi masyarakat di Kobe, Jepang . "Pada tahun 1995 terjadi gempa besar yang menghancurkan daerah Kobe, masyarakat tidak mengetahui di daerahnya tersebut akan terjadi gempa besar. Berdasarkan kejadian itu maka munculah program Iza Kaeru Caravan dengan sasaran pelajar dan masyarakat umum," katanya. Program tersebut, tambahnya, sebagai upaya penanggulangan bencana dengan mengadakan simulasi dan pembelajaran di ruang terbuka untuk anak-anak. Simulasinya dilakukan secara aktraktif dan dirancang dengan pola permainan dan program tersebut dikenalkan ke Indonesia dengan nama IKC dan Bapomi. (*/sir)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026