
Para Menlu Kembali Berupaya Capai Kesepakatan Nuklir Iran

Jenewa, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan menteri luar negeri dari enam negara lainnya akan berupaya dan mejadikan hari Sabtu menjadi kesempatan kedua dalam mencapai kesepakatan nuklir bersejarah dengan Iran di Jenewa. Pertemuan hari Sabtu ini akan menjadi yang kedua kalinya dalam kurun waktu dua minggu, di saat Kerry dan para menlu lainnya bekumpul di Jenewa setelah perundingan intensif mengalami kegagalan selepas tengah malam 10 November. Kerry memutuskan untuk mencoba kembali "karena kemajuan sedang berlangsung" dan "dengan harapan bahwa kesepakatan akan tercapai", kata juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf, Jumat. Di Swiss, Kerry kembali akan berkumpul dengan Menlu Prancis Laurent Fabius, Menlu Inggris William Hague dan Menlu Jerman Guido Westerwelle serta Menlu Rusia Sergei Lavrov, yang sudah tiba di Swiss pada hari Jumat. Menlu China Wang Yi tidak mengikuti pertemuan sebelumnya yang penuh dengan drama namun ia akan berada di Jenewa pada hari Sabtu. Terpilihnya Hassan Rouhani sebagai Presiden Iran pada bulan Juni memberikan harapan besar bahwa sengketa nuklir Iran akhirnya bisa diselesaikan setelah gagalnya prakarsa-prakarsa diplomatik dan meningkatnya ketegangan selama satu dekade terakhir. Resiko yang dihadapi jika kesepakatan gagal dicapai: Iran akan memperluas kegiatan nuklirnya lebih jauh, timbulnya sanksi yang makin berat serta kemungkinan adanya aksi militer oleh Israel dan bahkan Amerika Serikat. Iran mengatakan program nuklirnya dijalankan untuk tujuan damai, namun banyak pihak di masyarakat internasional mencurigai bahwa program itu ditujukan untuk mengembangkan senjata nuklir. Negara-negara kekuatan dunia menginginkan Iran menghentikan, untuk awalnya selama enam bulan, beberapa dari ribuan alat pemusing yang digunakan untuk melakukan pengayaan uranium hingga ke tingkat persenjataan. Mereka juga menginginkan Teheran menghentikan pekerjaan pembangunan di Arak dan memberikan hak-hak untuk memeriksa lebih dalam kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Sebagai balasannya, mereka menawarkan Iran sedikit pengurangan --yang bisa diubah-- sanksi-sanksi yang memberatkan, termasuk dengan membuka keran dana miliaran dolar dalam bentuk pendapatan dari minyak serta mengurangi beberapa pembatasan perdagangan. Kesepakatan "tingkat pertama" ini akan membangun kepercayaan dan menurunkan ketegangan sementara para perunding menggenjot kesepakatan final yang dapat mengakhiri semua kekhawatiran bahwa Teheran akan memiliki bom atom. Namun, butir utama yang masih melekat yang dituntut Iran --seperti dinyatakan pemimpin spiritual Ayatollah Ali Khamenei pekan ini-- adalah harus adanya pengakuan bagi "hak" Iran untuk melakukan pengayaan uranium. Hari ketiga perundingan pada hari Jumat di Jenewa membahas upaya untuk mempertipis perbedaan ketika Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jarad Zarif bertemu dengan kepala perundingan P5+1, yang juga kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
