
Petani bawang di Kabupaten Solok terapkan pertanian ramah lingkungan

Solok (ANTARA) - Sejumlah kelompok petani di Nagari (Desa) Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, Sumatera Barat mulai menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan.
Penyuluh pertanian dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumbar Samsurizal di Solok, Selasa mengatakan sejumlah kelompok tani sudah membentuk pertanian ramah lingkungan di Nagari Alahan Panjang.
"Saat ini sebagai percontohan telah dilakukan oleh petani bawang di Jorong Usak, Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Atau dikenal dengan kampung premium," katanya.
Sebanyak lima kelompok tani tersebut tergabung dalam kelompok tani Subarang Aia Sepakat. Masing-masing kelompok tani menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan sekitar lima hektare.
Sistem pertanian ramah lingkungan yang tengah diujicobakan oleh kelompok tani tersebut merupakan program dari Kementerian Pertanian serta Pemda Kabupaten Solok dan Pemprov Sumbar.
Selain itu, salah satu bentuk dukungan yang dilakukan untuk pertanian ramah lingkungan bagi kelompok tani percontohan di Alahan Panjang ialah diberikan satu unit klinik Pat yang berada di Jorong Usak.
"Klinik Pat akan mengembangkan pestisida bersifat ramah lingkungan dan diterapkan di lahan kelompok tani tersebut," ujar dia.
Klinik Pat juga bisa merujuk pada Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang berfokus pada perlindungan tanaman secara ramah lingkungan.
Lebih lanjut, ia mengatakan saat ini kelompok tani tersebut tengah menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan pada tanaman bawang merah. Jika dilihat dari perkembangannya, tanaman bawang merah tersebut tumbuh dengan subur. Selayaknya bawang yang dirawat menggunakan pestisida.
Kelompok tani Subarang Aia Sepakat tersebut saat ini juga telah menerapkan pupuk yang ramah lingkungan pada tanaman bawang merah. Diantaranya pemakaian pupuk kompos, lingkar kuning. Menggunakan pestisida nabati dari dedaunan berupa cengkeh, bawang putih, jahe dan lainnya.
Ia berharap upaya yang dilakukan oleh sejumlah kelompok tani tersebut membuahkan hasil yang maksimal. Sehingga nantinya dapat dijadikan sebagai percontohan bagi petani lainnya di daerah setempat yang masih bergantung pada pestisida dan kimia.
Menurut dia saat ini kesulitan para penyuluh di lapangan adalah menyadarkan petani tentang bahaya penggunaan pestisida dan pupuk kimia bagi tanaman. Serta menyosialisasikan tentang manfaat pertanian ramah lingkungan.
"Karena hampir seluruh petani di Desa Alahan Panjang Panjang bergantung pada pestisida dan kimia. Bahkan saat ini Alahan Panjang dikenal sebagai lembah tengkorak karena pemakaian pestisida yang terlalu banyak," ujar dia.
Ia mengimbau para petani setempat tentang bahayanya penggunaan pestisida bagi kesehatan. Serta mengajak para petani agar kembali menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk organik.
Pertanian ramah lingkungan adalah sistem pertanian berkelanjutan yang menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi dampak negatif pada lingkungan, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Penerapannya dengan cara menggunakan bahan organik, pengelolaan hama alami, rotasi tanaman, dan minimalisasi penggunaan pupuk kimia sintetis serta pestisida, dengan tujuan menghasilkan produk berkualitas, menjaga kesuburan tanah, mengurangi polusi, dan meningkatkan kesehatan petani serta konsumen.
Pewarta: Rahmatul Laila
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
