Logo Header Antaranews Sumbar

Kelompok Garis Keras Usir Gerilyawan Tuareg

Selasa, 20 November 2012 07:24 WIB
Image Print

Bamako, (ANTARA/AFP) - Sebuah kelompok garis keras memukul mundur gerilyawan suku Tuareg dari kota Menaka di Mali utara, Senin, kata satu sumber keamanan. Insiden itu menandai kemunduran lain yang dialami gerilyawan Tuareg yang berusaha mengusir militan garis keras dari kawasan tersebut. Militan dari Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) "menguasai daerah Menaka setelah bentrokan kecil" dengan gerilyawan Tuareg dari Gerakan Pembebasan Nasional Azawad (MNLA), kata sumber itu. Seorang warga setempat membenarkan informasi itu dengan mengatakan, militan-militan MUJAO "merebut kamp militer dan meneriakkan Allah Maha Besar". Gerilyawan Tuareg dan militan-militan garis keras yang mencakup MUJAO adalah sekutu dalam upaya awal mereka untuk menguasai Mali utara setelah kudeta di Bamako pada Maret. Namun, persekutuan itu berantakan pada Juni dan gerilyawan Tuareg sejak itu dihalau oleh militan garis keras dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Selama beberapa pekan ini, gerilyawan Tuareg meluncurkan ofensif untuk merebut kembali daerah-daerah itu dan berencana bermarkas lagi di Menaka, sebuah kota dekat perbatasan Niger dan sebelah timur Gao, kota utama di Mali utara. Minggu, MUJAO mengatakan, mereka memukul mundur gerilyawan Tuareg dari Gao. Timbuktu adalah salah satu kota utama di Mali utara, yang dikuasai muslim garis keras setelah mereka mengalahkan suku Tuareg yang menguasai wilayah itu pada Maret. Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung cabang Al Qaida Afrika utara AQIM, kini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis. Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan. Ansar Dine menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara. Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali. Muslim garis keras itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia. Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja. Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah. Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026