
Dunia Usaha Siap-Siap Hadapi "Big Data"

Jakarta, (ANTARA) - Kalangan dunia usaha diminta bersiap-siap menghadapi limpahan data dalam jumlah sangat besar (Big Data) yang tidak terstruktur dari seluruh sektor industri di Tanah Air. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, di Jakarta, Senin mengatakan dalam pengertian teknis, Big Data sebagai sebuah masalah di mana teknologi tradisional tidak mampu lagi untuk melayani besarnya jumlah data. "Teknologi tradisional seperti "relational data base" tidak mampu lagi menampung baik dari sisi volume, velositas hingga variasi data," katanya. Penjelasan fenomena Big Data di Indonesia tersebut terkait diskusi bertajuk "Big Data Trend 2nd Round : Infrastructure and Demand Challenges," yang akan diselenggarakan Indonesia ICT Institute dan Indonesia Cloud Forum (ICF), di Jakarta, pada 22 November 2012 mendatang. Menurut Heru, peningkatan data dalam jumlah sangat besar diakibatkan adopsi internet, di mana setiap individu memproduksi konten atau paling tidak meninggalkan sidik jari digital yang berpotensial digunakan untuk hal-hal baru, dari audiens targeting, rekomendasi ataupun penggunaan yang lebih tak terduga. Menurut Heru, sesungguhnya publik di Indonesia masih belum teredukasi tentang fenomena Big Data, padahal tanpa disadari bahwa masyarakat sudah menjalankan konsep Big Data. Ia menjelaskan, banyak perusahaan yang masih memandang gelontoran informasi yang mereka miliki sebagai "sampah" karena tidak mengetahui cara memanfaatkan data tersebut secara maksimal. "Optimalisasi dari Big Data sendiri dapat dialirkan untuk berbagai hal, mulai dari untuk urusan "business intelligent" hingga terkait program pemasaran suatu perusahaan," ujar Heru. Sementara itu, Country Manager Asia Pasifik Booz & Co David Hovenden mengatakan, seiring berjalannya waktu semakin banyak pengguna teknologi informasi mulai dari penggunaan perangkat genggam hingga di level korporasi yang memicu tingginya lalu lintas data. "Perkembangan tersebut sedikit demi sedikit telah menggiring dunia teknologi informasi menuju era Big Data, dimana storage berukuran hingga exabyte bahkan petabyte akan mulai mendominasi," ujar David. Untuk itu tambahnya, perusahaan harus fokus untuk membangun teknologi informasinya untuk menyongsong komputasi berbasis Big Data. Senada dengan itu, Country Manager NetApp Indonesia, Steven Law, mengatakan bahwa berbagai sektor di Indonesia sedang menuju Big Data. Dicontohkan Steven, sebuah file foto yang saat ini ukuran resolusinya sangat tinggi diunggah oleh seseorang ke akun sosial media. Bagaimana jika hal tersebut dilakukan oleh jutaan pengguna sosial media, maka akan terjadi peningkatan data base yang jumlahnya sangat besar. "Itulah salah satu fenomena era Big Data. Namun harus segera diikuti dengan peningkatan kapasitas storage atau peningkatan kemampuan solusi dalam prosesing," katanya. Sementara itu pendiri Indonesian Cloud Forum (ICF), Teguh Prasetya mengatakan big data sudah di depan mata yang salah satunya didorong kian tingginya adopsi cloud computing. Big Data merupakan kombinasi data dari media sosial dan data entreprises. "Data media sosial merupakan konten yang tidak terstruktur seperti teks, audio, video, foto dan web, dan kanal pubpik, sedangkan data terstruktur pada entreprises merupakan rincian kegiatan bisnis per hari, meliputi klien, produk, transaksi atau perdagangan," kata Teguh. Dijelaskannya, terdapat lima segmen pasar big data meliputi piranti keras (storage, server, dan jaringan), distribusi, pengelolaan komponen data, analitik dan visualisasi, serta layanan. Mengutip data dari konsultan teknologi Wikibon, Teguh menyebutkan pada tahun 2017 nilai pasar Big Data diperkirakan bisa mencapai sekitar 53,4 miliar dolar AS, melonjak dari perkiraan tahun 2012 yang diproyeksikan baru mencapai 5,1 miliar dolar AS. "Untuk menangkap peluang besarnya bisnis dari trend Big Data tersebut, publik dan perusahaan penyedia jasa cloud computing harus melibatkan semua komponen dan kesiapan seluruh infrastruktur jaringan," ujar Heru. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
