
Obama dan Miliki Berikrar Perangi Alqaida

Washington, (Antara/AFP) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki pada Jumat membicarakan tentang cara menekan Alqaida setelah kelompok itu meningkatkan kekerasan di Irak dalam lima tahun belakangan. Obama menyambut Maliki di Ruang Oval hampir dua tahun setelah tentara terakhir Amerika Serikat meninggalkan Irak, tapi kekhawatiran meningkat bahwa Alqaida menimbulkan kembali perang saudara. "Kami telah banyak membicarakan tentang bagaimana kami dapat bekerja sama untuk melumpuhkan organisasi garis keras yang beroperasi tidak hanya di Irak tetapi juga menimbulkan satu ancaman pada seluruh kawasan itu dan Amerika Serikat," kata Obama. Tetapi ia tidak menawarkan secara khusus bantuan AS. Sebelum lawatan itu,para pejabat AS secara pribadi mengisyaratkan bahwa mereka akan menawarkan bantuan intelijen yang meningkat kepada pasukan Irak yang memerangi para petempur kelompok garis keras itu-- banyak dari mereka memasuki negara itu dari Suriah yang dilanda konflik itu. Di tengah-tengah sejumlah kecaman bahwa AS meninggalkan Irak untuk menjaga dirinya setelah delapan tahun pendudukan, Obama mengatakan ia menghargai usaha Maliki untuk menghormati pengorbanan 4.500 tentara AS yang tewas dalam perang itu dengan membangun satu " Irak yang sejahtera, melibatkan seluruh kelompok dan demokratik." Sejumlah pengeritik Maliki di Washington merasa perdana menteri itu tidak cukup banyak berbuat untuk melibatkan seluruh minoritas Irak dalam sistem politik dan karena itu mendorong timbulnya konflik sektarian yang memberikan peluang bagi kelompok garis keras. Setelah berembuk satu setengah jam, Obama juga mendorong Maliki menyetujui satu undang-undang pemilu agar pemilu nasional dapat diselenggarakan tepat waktu awal tahun depan, dan menegaskan tentang perlunya satu solusi damai konflik Suriah dan penutupan program nuklir Iran. Maliki mengatakan ia mengharapkan AS dapat membantu membangun kembali Irak dan menegaskan komitmen pemerintahnya pada satu perjanjian penting yang mengatur hubungan mereka setelah penarikan seluruh pasukan AS. Ia mengakui bahwa demokrasi di irak "goyah" tetapi berjanji akan menyelenggarakan pemilu tepat waktu tahun depan. Oktober adalah bulan paling berdarah sejak April 2008, dengan 964 orang tewas dan 1.600 orang lainnya cedera, kata data dari kementerian-kementerian kesehatan, dalam negeri dan pertahanan. Sebagian besar yang tewas adalah warga sipil. Maliki memiliki satu daftar yang diinginkan Irak bagi perangkat keras militer termasuk helikopter=helikopter tempur serta jet-jet tempur yang telah dipesan untuk membantu memperlengkapi peralatan militer Irak yang lemah guna memerangi pemberontak. Tetapi ia tidak mengatakan apakah Washington menyetujui permintaannya itu. Dalam satu pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah perundingan itu, kedua pihak sepakat tentang perlunya "paralatan tambahan bagi pasukan Irak untuk melakukan operasi-operasi yang sedang dilaksanakan di daerah-daerah terpencil di mana kamp-kamp gerilyawan terletak." Pernyataan itu juga menyatakan kedua pihak mendukung tentang perlunya bagi capaian lebih jauh politik yang agresif" untuk mengucilkan dan mengalahkan gerilyawan Negara Islam Irak dan Levant, yang adalah kelompok garis depan Al Qaida. Tekad itu dapat mengisyaratkan pada satu usaha baru Irak untuk melibatkan kelompok Sunni dalam usaha meyakinan mereka untuk meninggalkan Al Qaida, seperti yang mereka lakukan dibawah pasukan AS pada saat tahun-tahun terahir pendudukan. Sebelum perundingan itu, ratusan pengunjuk rasa anti-Maliki berkumpul dekat Gedung Putih, mengecam pemerintah Irak atas pembunuhan 52 warga Iran di pengasingan di Kamp Ashraf, Irak pada 2 September. Pihak berwenang Irak menyalahkan kematian itu akibat perkelahian dalam kelompok itu. Tetapi Organisasi Mujahidin Rakyat Iran mengatakan pasukan memasuki kamp itu dan membakar properti dan melepaskan tembakan ke mereka yang berada di dalam lokasi itu. Lebih dari 3.000 bekas penghuni Kamp Asharf kini ditampung di satu bekas pangkalan AS di Kamp Liberty dekat Baghdad, menunggu penempatan mereka di luar negeri. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
