Logo Header Antaranews Sumbar

KBRI Canberra Peringati Sumpah Pemuda

Selasa, 29 Oktober 2013 10:26 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, Australia, Senin, menyelenggarakan acara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-85 (28 Oktober 1928 - 28 Oktober 2013). Dalam surat elektronik dari KBRI Canberra yang diterima di Jakarta, Selasa, menyebutkan dalam memperingati Sumpah Pemuda, Perwakilan RI di Negeri Kanguru itu memutar film dokumenter "Indonesia Calling 1946" dan diskusi panel film dokumenter itu bersama kalangan pemerintah, akademisi, dan masyarakat Australia serta masyarakat Indonesia. Film dokumenter itu menceritakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Australia tersebut diluncurkan pada 1946 oleh seorang warga Belanda yaitu Joris Ivens. Duta Besar RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema saat membuka acara itu menyampaikan bahwa "Indonesia Calling 1946" menggambarkan semangat kerja sama yang muncul secara spontan pada saat pemuda Indonesia membutuhkan dukungan pada awal kemerdekaan Indonesia dan rakyat Australia menjawab dengan dukungan dan bantuan yang luar biasa kepada rakyat Indonesia. "Sepenggal catatan sejarah ini belum banyak diketahui masyarakat Indonesia maupun Australia," ungkapnya. Film tersebut menggambarkan perjuangan kemerdekaan oleh masyarakat Indonesia di Australia terhadap pemerintah Belanda yang melalui pelabuhan-pelabuhan di Australia hendak mengirimkan pasukan dan senjata untuk menjajah kembali Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia yang dibawa Belanda ke Australia - setelah Jepang merebut Hindia Belanda pada Perang Dunia II - demonstrasi dengan menolak bekerja dengan pihak Belanda, baik dari kalangan buruh, pelaut, maupun tentara yang telah dilatih oleh pemerintah Belanda. Dengan dukungan kuat dari publik Australia serta "Australian Waterside Workers Union", buruh dan para pelaut Indonesia, China, India berhasil memboikot kapal-kapal Belanda ke Indonesia, yang dikenal sebagai "The Black Armada". Selama beberapa tahun upaya pemboikotan tersebut berhasil menahan ratusan kapal Belanda ke Indonesia. Seusai pemutaran film, acara berlanjut dengan diskusi panel membahas dukungan pekerja dan buruh serta masyarakat Australia di awal kemerdekaan Indonesia. Diskusi dipimpin oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra Prof Ronny Rachman Noor dengan para panelis Prof Anthony Reid dari Australian National University dan Kresno Brahmantyo, pengajar bidang sejarah di Universitas Indonesia, serta Anthony Liem, narasumber untuk film tersebut. Disebutkan bahwa beberapa penonton Australia yang melihat film tersebut mengatakan bahwa mereka baru pertama kali melihat film dokumenter tersebut, dan sangat terkejut serta terharu atas dukungan yang luar biasa dari publik Australia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka mengusulkan agar film dokumenter tersebut dapat disebarluaskan kepada publik Australia dan Indonesia, sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana kuatnya hubungan sejarah antara kedua negara. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026