
Mesir Tangkap Pendukung Moursi yang Terkait Serangan Kairo

Kairo, (Antara/Reuters) - Para pejabat keamanan Mesir, Selasa, mengatakan bahwa pihak berwenang telah menahan seorang pendukung Presiden yang digulingkan Mohamed Moursi yang diduga terlibat dalam serangan roket pada sebuah stasiun satelit milik negara di Kairo. Hubungan apapun yang ada antara tersangka dan Moursi terkait serangan 7 Oktober di ibukota itu kemungkinan besar akan digunakan untuk membenarkan dilakukannya tindakan yang lebih keras terhadap kelompok Islam, yang oleh pihak berwenang telah digambarkan sebagai teroris sejak militer merebut kekuasaan pada 3 Juli. Dua orang terluka dalam serangan di Maadi, kawasan pinggiran Kairo, pada hari yang sama tersangka sipil bersenjata menewaskan enam tentara Mesir di dekat Terusan Suez. Para pejabat keamanan mengatakan seorang pedagang pakaian bernama Moataz Mahmoud telah ditahan . Pihak berwenang menemukan senjata termasuk bagian yang menyerupai senjata yang digunakan dalam serangan di Maadi dalam apartemennya, kata mereka. "Kami memiliki kecurigaan kuat bahwa dia terlibat dalam serangan itu," kata salah seorang pejabat keamanan seraya menambahkan bahwa yang bersangkutan adalah pendukung Moursi. Para pejabat keamanan mengatakan Mahmoud berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa yang telah berlangsung selama beberapa pekan di timur laut Kairo, yang diselenggarakan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin Moursi. Polisi dan tentara bergerak untuk membubarkan aksi itu pada bulan Agustus, membunuh ratusan demonstran. Pendukung Ikhwanul Muslimin mengatakan pasukan Mesir menembak warga sipil tak bersenjata , tetapi pihak berwenang mengatakan mereka membela diri setelah mendapat serangan . Pihak berwenang menuduh kelompok itu menyimpan persenjataan di lokasi itu, tuduhan yang dibantah oleh gerakan itu. Mesir telah masuk dalam kekacauan politik sejak militer menggulingkan Moursi dan membentuk sebuah pemerintah sementara setelah aksi unjuk rasa terhadap pemerintahannya . Gejolak itu telah memukul industri pariwisata dan investasi di negara yang terletak di jantung Timur Tengah itu. Sekutu barat negara itu memantau perkembangan di Mesir, yang memiliki perjanjian perdamaian dengan Israel dan mengontrol Terusan Suez, rute perdagangan penting global. Pihak berwenang tidak membuat perbedaan antara Ikhwanul Muslimin, yang sekarang dilarang di Mesir , dan gerilyawan yang terinspirasi Al Qaeda di Semenanjung Sinai yang telah secara dramatis meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan sejak penggulingan Moursi . Ikhwanul Muslimin mengatakan jika kelompok mereka adalah kelompok damai, dan pemerintah membuat tuduhan itu untuk membenarkan tindakan keras yang telah menewaskan ratusan orang. Lebih dari 2.000 pendukung IkhwanulMuslimin juga telah ditangkap, termasuk Moursi dan pemimpin tinggi lainnya. Militer dan pejabat keamanan mengatakan bahwa niat Ikhwanul Muslimin yang sesungguhnya adalah mendirikan negara Islam tunggal di beberapa negara , dan bahwa kepentingan nasional Mesir bukan merupakan prioritasnya - suatu tuduhan yang telah dibantah kelompok itu. Kekhawatiran berkembang bahwa gerilyawan bisa mengambil kendali di luar Sinai dan seluruh Mesir . Sebuah kelompok di Sinai mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang gagal yang ditujukan pada menteri dalam negeri Mesir di Kairo pada bulan September . Sejumlah serangan terhadap polisi juga telah terjadi di ibukota. Dalam rangka untuk melawan apa yang dikatakan sebagai peningkatan ancaman terorisme , Mesir telah memberlakukan keadaan darurat dan jam malam . (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
