Logo Header Antaranews Sumbar

BPS: Tingkat Kesejahteraan Petani Melonjak

Selasa, 1 Oktober 2013 17:26 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) atau tingkat kesejahteraan petani di Indonesia pada September 2013 mencapai 104,56 poin, naik 0,23 persen dibanding NTP periode Agustus 2013 sebesar 103,75 poin. "Kenaikan kesejahteraan petani didorong melonjaknya NTP subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,57 persen, NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 0,42 persen, dan NTP subsektor Peternakan sebesar 0,38 persen," kata Kepala BPS Suryamin, di Jakarta, Selasa. Menurut Suryamin, sebaliknya berdasarkan pemantauan BPS pada 32 provinsi, NTP subsektor Hortikultura turun 0,70 persen, dan NTP subsektor Perikanan sebesar 0,28 persen. BPS menyebutkan, NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani. "Meskipun NTP subsektor Hortikultura dan subsektor Perikanan merosot, namun kenaikan yang terjadi subsektor Tanaman Pangan dan Tanaman Perkebunan Rakyat serta Peternakan mampu menopang kesejahteraan petani secara nasional," tegas Suryamin. Sementara itu, selama September 2013, BPS mencatat Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mencapai 157,61, naik 0,36 persen dibanding periode Agustus sebesar 157,04, dan saat yang sama Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mencapai 150,73 poin, naik 0,13 persen dari sebelumnya 150,54 poin. Suryamin menambahkan, berdasarkan penghitungan NTP di 32 propinsi, tercatat 26 provinsi mengalami kenaikan NTP, dan enam provinsi menurun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat yaitu 1,02 persen, sebaliknya penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 0,97 persen. Kenaikan tertinggi NTP di Papua Barat disebabkan kenaikan subsektor Tanaman Pangan khususnya komoditi kacang tanah yang naik sebesar 6,74 persen. Sedangkan penurunan NTP di Sulawesi Utara didorong penurunan subsektor Tanaman Perekbunan Rakyat khususnya komoditi cengkeh yang merosot 3,4 persen. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026