Logo Header Antaranews Sumbar

Hanya 32 Persen Penduduk Indonesia yang Miliki Rekening Bank

Senin, 30 September 2013 13:41 WIB
Image Print

Bandung, (Antara) - Lembaga Riset Telematika Sharing Vision menyatakan hanya 32 persen penduduk Indonesia yang sudah memiliki rekening bank, sisanya yakni sebanyak 68 persen dari 246,9 juta orang penduduk Indonesia belum memiliki rekening perbankan. "Selain itu, sebanyak 80,4 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas tidak memiliki akun sektor keuangan formal, maka perlu adanya terobosan layanan perbankan ke masyarakat," kata Chairman Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana, di Bandung, Senin. Menurut Dimitri, pada tahun 2011 lalu Bank Indonesia (BI) menyebut ada sekitar 52 persen dari rumah tangga di Indonesia ternyata belum memiliki simpanan di lembaga keuangan. Padahal, lanjut dia, kesenjangan sudah tercipta seperti finansil yang besar karena jumlah pengguna kartu kredit, kemudian pengguna internet banking dan mobile banking di Indonesia tahun 2013 yang tumbuh pesat yakni masing-masing 14,67 juta pengguna, 5,7 juta, dan 16,5 juta. Ia menuturkan, apabila melihat dari pasokan perbankan, e-money sudah disediakan 36 persen bank di Indonesia, 73 persen mobile banking, 95 persen kartu debit dan internet banking 82 persen. "Tapi pertumbuhan itu justru hanya pesat di kota-kota besar di Indonesia. Artinya, secara keseluruhan, masih lebih banyak rakyat yang butuh namun tidak tercakup layanan," katanya. Dikatakan dia, melihat keadaan tersebut maka diperlukan sebuah terobosan berupa branchless banking yakni perluasan layanan keuangan tanpa bergantung keberadaan kantor cabang bank. "Pada prinsip dasarnya agen perbankan yang bergerak pro aktif mendatangi nasabah terutama yang lokasinya terisolasi," kata dia. Ia menjelaskan, terobosan berupa branchless banking atau perluasan layanan keuangan tanpa bergantung keberadaan kantor cabang bank, diyakini mampu mengakomodasi banyaknya masyarakat yang membutuhkan akses perbankan dan belum terlayani. "Bahkan dengan mengadopsi layanan telekomunikasi paling awam, seperti SMS yang bisa dijalankan di feature phone atau ponsel paling dasar," kata Dimitri. Dengan begitu, katanya, maka kendala jarak dan waktu bisa disiasati dengan implementasi teknologi informasi. "Sejumlah negara bahwa negara ketiga yang lebih miskin dari Indonesia, seperti M-Pesa di Kenya, bKash (Bangladesh), Mobile Money dan BSP Rural (Papua New Guinea), dan Grameen Bank (Pakistan), ketiganya terbukti sejak lama berhasil menerapkan branchless banking," katanya. Ia mencontohkan, di Kenya, nilai transaksi hariannya sudah mencapai sekitar Rp575 miliar per hari dengan pendapatan tahunan 2013 Rp2,83 triliun dan jumlah agennya sudah mencapai 65.547 orang, mayoritas transaksi dijalankan melalui SMS," ujarnya. Menurutnya, layanan hasil kerjasama operator seluler dan perbankan di Kenya, Safarimcom dan Citibank, memungkinkan transfer dikirim via SMS untuk selanjutnya diproses agen dengan sistem jemput bola ke pelosok sekalipun hanya menggunakan sepeda. "Lalu masyarakat pun bisa menyetor tabungan ke agen tersebut tanpa perlu rekening perbankan atau cukup mendaftar untuk memiliki user ID di M-Pesa. Dari akun inilah, seluruh proses transaksi dijalankan kedua pihak," katanya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026