Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Suriah Desak Boikot Konferensi yang Libatkan Iran

Kamis, 26 September 2013 10:08 WIB
Image Print

Paris, (Antara/AFP) - Lebih dari 100 perwira senior Tentara Pembebasan Suriah telah menandatangani petisi yang mendesak boikot setiap konferensi perdamaian mengenai negara mereka yang melibatkan Iran, kata seorang jenderal oposisi, Rabu. Pernyataan itu "sekali lagi mengutuk rezim kriminal Assad dan setiap konferensi yang akan membuka jalan selain penggulingan rezim." Ia menuduh Teheran, sekutu utama Presiden Suriah Bashar al - Assad, sebagai "bagian serius dari masalah", dan menambahkan bahwa "tidak boleh terlibat dalam bentuk apapun pada konferensi tentang Suriah." Para jenderal itu mengupayakan "boikot dari setiap konferensi atau diskusi yang melibatkan Iran dalam satu cara atau yang lain." Pernyataan itu muncul setelah Presiden Prancis Francois Hollande, yang telah menuntut tindakan "paksa" PBB terhadap Suriah jika tidak menyerahkan senjata kimianya, mengatakan bahwa Iran telah menyambut tercapainya inisiatif perdamaian internasional Suriah, yang dijuluki Jenewa-2, jika itu membantu dalam transisi politik di Suriah. "Saya ingin menekankan bahwa siapa pun yang akan menerima dan meminta kehadiran Iran dalam konferensi tersebut akan dianggap sebagai musuh rakyat Suriah," kata Methkal Albatich, seorang jenderal di Tentara Pembebasan Suriah . "Bagaimana kami bisa menerima partisipasi suatu negara yang terlibat langsung dalam membunuh kami?" katanya. "Lebih dari 140 negara dan organisasi terlibat dalam Sahabat Konferensi Suriah. Semua bantuan mereka digabungkan pun, tetap kurang dari apa yang Iran berikan untuk Assad," katanya. Jenderal itu juga mengatakan ada beberapa pejuang asing yang mengobarkan perbedaan pendapat di kalangan pejuang oposisi tetapi mereka tidak menimbulkan ancaman nyata karena jumlah mereka sedikit. "Beberapa dari kalangan ekstrimis ini berasal dari Chechnya atau dari Irak. Mereka mengatakan datang untuk membantu revolusi Suriah, tetapi mereka memiliki agenda lain. Jumlah mereka sangat sedikit , tetapi rezim Assad memiliki kepentingan politik untuk membuat duniapercaya bahwa jumlah mereka banyak." "Mereka bukan ancaman: setelah Assad jatuh , kami akan mengurus mereka dalam dua hari. Tapi pertama-tama, kami harus fokus pada Assad," tambahnya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026