Logo Header Antaranews Sumbar

Titik Api di Sumsel Mulai Menghilang

Senin, 2 September 2013 14:36 WIB
Image Print

Palembang, (Antara) - Titik api (hotspot) yang beberapa hari terakhir terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, kini pada awal September 2013 mulai menghilang setelah terdapat cukup sering turun hujan. "Berdasarkan pantauan melalui satelit per 29 Agustus terdeteksi 20 hingga 25 titik api di wilayah Kabupaten Musirawas, dan Musirawas Utara (Muratara), namun hari ini tidak terdeteksi satupun hotspot atau nihil," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan Indra Purnama di Palembang, Senin. Menurutnya, keberadaan titik api yang terdeteksi pada musim kemarau di wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota ini jumlahnya relatif sedikit dan masih tergolong aman. Meskipun kondisinya cukup aman, titik api yang mulai terdeteksi sepekan terakhir dan kini mulai menghilang, perlu diwaspadai karena sewaktu-waktu bisa muncul kembali dengan jumlah yang lebih banyak. Masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan munculnya kembali titik api yang berpotensi mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerugian harta benda, gangguan kesehatan, dan berbagai aktivitas masyarakat seperti yang terjadi pada tahun lalu. Dalam kondisi cuaca di wilayah Sumsel akhir-akhir ini mulai sedikit hujan, masyarakat yang tinggal di beberapa daerah rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan jika di wilayahnya dalam waktu secara berturut-turut tiga hari ke atas tidak terdapat hujan dan cuacanya cenderung panas perlu mewaspadai titik api. Beberapa daerah yang tergolong rawan "hotspot" seperti Kabupaten Musirawas, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir, karena daerah tersebut terdapat lahan gambut serta banyak perusahaan perkebunan besar, kata Indra. Sementara sebelumnya Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Selatan MS Sumarwan mengatakan, memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2013, pihaknya telah menyiagakan sekitar 800 relawan guna mengantisipasi terjadinya bencana yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Walaupun sekarang ini jumlah titik api masih tergolong sedikit dan belum berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, namun pihaknya bersama instansi terkait terus siaga pada daerah yang cukup rawan timbulnya bencana dampak musim kemarau itu, kata Sumarwan pula. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026