
MITI: Indonesia Miliki Modal SDA-SDM Melimpah

Depok, (Antara) - Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Dr Warsito P Taruno mengemukakan bahwa Indonesia telah memiliki semua modal sumber daya alam melimpah dan sumber daya manusia yang unggul untuk menjadi negara maju. "Hanya saja, yang belum terjadi adalah 'matching' di antara keduanya (SDA melimpah dan SDM unggul)," katanya di Depok, Jawa Barat, Sabtu sore. Pada peresmian "MITI Center" yang dihadiri Wakil Ketua DPR Sohibul Iman, Mensos Salim Segaf Al Jufrie, mantan Menristek yang Ketua Pembina MITI Suharna Surapranata ia menyebut belum "nyambung"-nya keunggulan tersebut sebagai sebuah ironi. "SDA kita dikuasai sekelompok orang yang tidak berpengetahuan, kalau mereka berpengatuan tentunya tidak akan dikeruk dan diangkut kapal ke luar negeri begitu saja," katanya. Di sisi lain, kata ilmuwan penemu Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), sebuah teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang digunakan pada CT Scan itu, anak-anak bangsa yang disekolahkan dengan biaya mahal di luar negeri hanya jadi penonton. "Kalau hanya jadi penonton pengerukan dan pengapalan SDA kita, tidak perlu doktor sebanyak saat ini, dan tidak perlu banyak universitas, dan tidak perlu anggaran pendidikan 20 persen," kata doktor lulusan Universitas Shizuoka, Jepang itu. Ditegaskannya bahwa untuk menjadikan SDA dan SDM "matching", yang diperlukan tidak lebih hanyalah jaringan (networking). Oleh karena itulah, kata dia, MITI mengambil peran sebagai "networking" dan "pipeline" (penyalur). "Kita ingin menjadi sumber inspirasi, pendorong dan penghubung ke semua pihak untuk membangun Indonesia yang madani, berbasis ilmu pengetahuan," kata pencipta alat pemindai aktivitas otak 4 dimensi "4D Brain Activity Scanner" itu. Menurut Warsito P Taruno, selama 10 tahun terakhir ini MITI telah berupaya membangun jaringan dna kemitraan di seluruh Indonesia dan mancanegara. Di kalangan mahasiswa, pihaknya telah bermitra dengan hampir 80 kampus di 30 provinsi di Indonesia, serta bermitra dengan jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, dan juga menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi swadaya masyarakat maupun LSM internasional. Pada tingkat masyarakat, kata dia, MITI selama lima tahun terakhir telah berusaha menghubungkan kampus dengan masyarakat dalam program "community development" dengan membangun pusat Research Center for Community Development" (RCDC) di berbagai daerah di Indonesia. Dengan program RCDC itu, katanya, diharapkan masyarakat bisa meningkatkan produktivitas dan nilai tambah ekonomi maupun kehidupan mereka dengan memanfaatkan pengetahuan dan teknologi sederhana yang dikomandoi mahasiswa dari kampus-kampus seluruh Indonesia. Mengenai dipilihnya Kota Depok sebagai "MITI Center", dijelaskan bahwa kota ini adalah pusat pemikiran Indonesia, karena ada Universitas Indonesia yang notabene masih menjadi rujukan tentang berbagai pemikiran kebangsaan Indonesia. "Kita berharap dengan adanya 'MITI Center' di tengah Kota Depok dekat UI, rumah ini akan menjadi sumber inspirasi tentang ide baru pemikiran kebangsaan Indonesia menuju Indonesia yang berbasis Iptek. Indonesia Madani yang kita cita-citakan, yang juga mengukuhkan misi kita yaitu 'MITI Untuk Indonesia Madani'," katanya. Humas MITI Drs H Mu'arif menambahkan MITI adalah sebuah LSM yang didirikan sejak 2004 beranggotakan 300 doktor dari berbagai belahan dunia. Pendiri dan pembina MITI adalah mantan Menristek Suharna Surapranata. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
