Logo Header Antaranews Sumbar

Menteri ESDM Minta Pengusaha Batubara Tetap Optimistis

Senin, 12 November 2012 16:08 WIB
Image Print
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik. (ANTARA)

Jakarta, (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mendorong agar para pengusaha batubara tetap optimistis menghadapi tekanan eksternal khususnya terkait penurunan harga komoditas energi tersebut di pasar global. "Memang industri batubara saat ini dalam kondisi yang agak tertekan sedikit, tetapi kami dari pemerintah berharap agar pengusaha tetap "survive"," kata Jero Wacik di Jakarta, Senin. Jero mengatakan bagi Indonesia pertambangan batubara menjadi sesuatu yang penting, karena kebutuhan energi seiring bertambahnya jumlah pembangkit listrik yang terus meningkat. "Saat ini batubara tetap menyumbang 26 persen dari kebutuhan energi domestik, meskipun dalam beberapa tahun ke depan kita terus upayakan untuk sumber energi yang terbarukan," kata Jero. Menurut Jero, pada tahun 2025 mendatang, energi batubara akan menyumbang peranan 30 persen dari kebutuhan energi dalam negeri, sehingga peluang industri tersebut untuk terus tumbuh masih terbuka luas. Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Bob Kamandanu, mengatakan pihaknya akan terus berupaya mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan Masterplan Perluasan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) terutama dalam meningkatkan kapasitas penyediaan energi. "Kami sangat percaya dan memang sudah terbukti bahwa tingginya konsumsi dalam negeri adalah hal yang membuat Indonesia bertahan dari krisis," kata Bob. Bob kemudian memperkirakan produksi batubara pada tahun 2013 masih dapat mencapai 350-360 juta ton, sementara untuk produksi hingga akhir tahun ini kemungkinan hanya akan mencapai 340 juta ton. "Dalam bisnis manapun tidak mungkin menggenjot produksi di saat harga yang sedang turun, kita melihat bahwa penurunan ini akan berlangsung beberapa lama," katanya. APBI menyebutkan bahwa merosotnya harga batubara hingga separuh harga yaitu dari 130 dolar AS per ton menjadi hanya 60-70 dolar AS per ton pada awal September 2012 adalah karena pasokan berlebihan ke pasar internasional. Beberapa negara baru yang mulai masuk ke pasar ekspor seperti Amerika Serikat, Mozambik, Kolombia, dan Rusia menyebabkan banjirnya komoditas batubara di pasar internasional. Sementara beberapa negara industri yang merupakan konsumen batubara seperti China di saat bersamaan mengerem konsumsi impor batubara guna memacu pertumbuhan ekonominya yang mulai melambat. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026